Tampilkan postingan dengan label kisah barirah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah barirah. Tampilkan semua postingan

Hiburan Untuk Hati Yang Terluka oleh Firda Annisa'


N-Drama

            Ia menatapku, tapi raut mukanya berubah drastis. Yang sedari tadi terus tersenyum dan menatapku hangat kini menjadi datar dan serius. Membuat senyum di wajahku memudar dengan sendirinya. Hening, ia belum juga melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Keadaan sudah berubah menjadi sangat tidak enak, seperti mendung pada musim semi. Canggung. Benar-benar canggung. Jantungku berdebar panik saat celah bibirnya mulai membuka.

            “em..kita udahan aja, ya?” tanyanya. Serius, lugas dan tanpa keraguan.

            Apa? Dia bilang apa barusan?

            Kukira aku salah dengar. Tapi kemungkinannya kecil. Karena memang keadaan cukup sepi tanpa suara lain dan ekspresinya menyatakan semuanya dengan amat jelas.

            “M-maksudnya?” tanyaku dengan bodohnya.

            “Kita cukup sampai di sini aja” ia tersenyum kaku. “selesai.”

            Sebisa mungkin aku mencerna keadaan, karena aku memang clueless. Kenapa tiba-tiba ia ingin mengakhiri semuanya? Apa aku telah melakukan kesalahan?

            “Ah...” aku mengangguk lemah. “Tapi...kenapa? kenapa tiba-tiba...?”

            “Aku suka orang lain, ” jawabnya tenang. “Maaf. Aku kira kamu orang yang paling aku suka, ternyata bukan. Kamu benar, kamu memang membosankan. Bahkan kita udah coba kegiatan baru hari ini, tapi nggak ada bedanya.”

            Begitu? Entahlah. Sakit, tapi lebih ke mati rasa. I mean, semudah itu? Jadi senyumnya seharian tadi palsu? Please, kamu bercanda, kan?

N-Drama End

            Menurut kalian, apakah kisah di atas menyakitkan? Ya. Sudah menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba diputusin cuman karena alasan yang kurang masuk akal. Pasti sakit rasanya. Sebagian pasti merasa dirinya adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia ini. Bosan? Semua orang juga pasti bosan. Cuman, gak semua yang memperlihatkannya. Lebih jelasnya lagi, di saat itu, siapa diantara mereka yang mampu bertahan. Siapa diantara mereka yang mampu menutup rasa bosan itu dengan kesetiaan. Sepertinya banyak kaum remaja yang mengalami peristiwa tersebut. Kenyataannya, kisah cinta nyesek seperti di novel-novel tersebut, beneran terjadi.

            Kalau menurut kalian, kisah “N-Drama” di atas sudah menyakitkan, percayalah! Banyak yang lebih menyakitkan lagi. Malah bisa dibilang kisah itu hanyalah kisah yang terlalu sederhana, bagi mereka yang sudah berpengalaman pastinya. Bukan hanya berpengalaman membaca banyak cerita cinta, namun juga bagi mereka yang berpengalaman menjalani kehidupan yang seperti itu.

Entahlah, tapi memang selalu ada cara bagi mereka untuk memulainya. Juga, selalu ada cara bagi mereka untuk mengakhirinya. Disaat itulah, selalu ada berbagai alasan bagi mereka untuk melepaskan hubungan. Entah salah satu pihak ada yang tidak setuju, ataupun malah dua-duanya memang sudah berencana seperti itu, gak akan berpengaruh besar dalam kehidupan mereka. Karena pada dasarnya, hubungan mereka memang bukan hubungan yang resmi. Baik resmi atas nama agama ataupun negara.

Peristiwa seperti itu jelaslah menimbulkan rasa sakit dalam hati. Jika sudah seperti itu, siapa yang harus disalahkan? Orang yang tiba-tiba memutuskan? Atau bahkan orang yang diputusin? Jelasnya mereka berdua sama-sama salah. Siapa suruh menjalin hubungan yang seperti itu? Siapa yang menyuruh mereka pacaran? Ujung-ujungnya patah hati kan?!.    

Okey, mari kembali ke pembahasan yang sebenarnya. Pembahasan di atas tidak perlu dibahas terlalu panjang. Karena memang bukan itu yang akan menjadi fokus penjabaran selanjutnya. Untuk kasus diatas, yang jelas rasa sakit karena cinta yang tertolak itu sudah jelas sebagai hukuman bagi mereka karena telah melanggar syariat Allah Swt.

Lalu bagaimana dengan rasa sakit yang diterima karena cinta yang sudah ditolak sejak awal? Apakah itu juga hukuman? Padahal, ia berniat untuk melamar. Ia bahkan gak ada niatan sama sekali untuk berpacaran. Ia benar-benar ingin menjalin hubungan yang sah sekaligus resmi, baik dalam hal agama maupun negaranya. Mungkinkah itu memang hukuman untuknya? Kalaupun bukan, terus apa arti dari patah hati tersebut?

Yap! Itulah yang akan kita bahas disini. Di dunia ini, manusia sangatlah banyak. Selain itu, mereka juga punya sifat yang berbeda-beda. Sangat beragam. Ada yang dingin, cuek, pendiam dan banyak lagi sifat lainnya. Bahkan ada yang sangat ceria, selalu berusaha meramaikan suasana untuk memendam kesedihannya. Dengan keberagaman sifat tersebut, apakah orang yang cintanya sudah ditolak sejak awal, memang selalu merasakan patah hati?! Lalu apakah arti sesungguhnya dari patah hati?!


Bagian pertama: Mencintai adalah fitrah manusia


1.     What is love?

fs

Berbicara mengenai cinta, gak bakalan selesai. Ia takkan selesai dibahas sampai kapan pun. Yang jelas, cinta sangat identik dengan perasaan. Baik perasaan kasih sayang, suka, ataupun yang lainnya.Tergantung bagaimana seseorang itu mendefinisikan cinta itu sendiri. Siapa sih yang belum pernah merasakan cinta? Semua orang pasti pernah merasakannya. Karena memang cinta itu sendiri adalah anugerah Allah yang diberikan kepada setiap manusia. Sehingga mencintai adalah fitrah manusia. Dari sini, masih adakah yang menolak bahwa dirinya pernah merasakan cinta?.

Cinta tidak hanya tertuju pada pasangan, melainkan pada keluarga, sahabat, bahkan alam sekitar juga terdapat cinta. Yang namanya cinta sudah pasti tertanam dalam hati seseorang. Namun, memang cara mengungkapkannya berbeda-beda. Ada yang secara terang-terangan menunjukkan rasa cintanya dalam pelukan, ciuman atau bahkan melontarkan kata-kata manis kepada apa yang ia cintai. Ada juga yang sebaliknya. Ia tidak pernah mengekspresikan rasa cinta itu sendiri. Ia hanya mengawasi dari jauh, memperhatikan diam-diam bahkan tidak mau melontarkan kata-kata manis walau cuman sekali. Begitulah manusia, sifatnya sangat beragam.   

Menurut para ahli, cinta adalah bentuk emosi manusia yang paling dalam serta paling diharapkan. Elemen yang paling penting adalah perhatian dari apa yang ia cintai. Manusia mungkin akan berbohong, mencuri, membunuh atas nama cinta bahkan lebih memilih mati daripada kehilangan cinta. Ada juga yang mendefinisikan bahwa cinta adalah perasaan emosional dan mental yang kompleks. Yang mana setiap individu mengalami tipe cinta yang berbeda bentuk maupun kualitasnya.

Rasa cinta telah hadir sejak masa Nabi Adam diciptakan. Dengan kemegahan jannah yang tak terkira tersebut, Nabi Adam masih merasakan hampa. Mengapa? Karena tidak ada seseorang di sisinya. Maka dari itu, Allah menciptakan Hawa, dari tulang rusuk Nabi Adam sendiri, sebagai seseorang yang akan menemaninya. Sebagai cinta pertamanya sesama manusia. Dengan begitu, kehampaan yang beliau rasakan pun lenyap seketika. Hidup serasa lebih lengkap karena kehadirannya. Lalu, apa arti cinta menurut Islam?

Dalam Islam cinta adalah limpahan kasih sayang Allah Swt yang tak terhingga kepada seluruh makhlukNya. Cinta juga dapat diartikan sebagai dasar ukhuwah antar manusia serta perasaan yang menjadi landasan hubungannya dengan makhluk lain.

Kedudukan cinta yang paling utama bagi manusia adalah cinta kepada Allah Swt. Dengan menjadikan Allah sebagai prioritas pertama, akan memudahkan ia untuk selalu dan selalu berusaha menta’ati segala perintah sesuai kemampuannya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Setelah mencintai Allah serta menjadikan hal tersebut sebagai prioritas pertama, otomatis seseorang itu akan mencintai serta berusaha untuk menjaga segala yang diciptakan-Nya. Termasuk alam sekitar seperti menjaga lingkungan, merawat tumbuhan dan menyayangi hewan.

Terus, apakah cinta kepada sesama manusia dilarang dalam Islam? Tentu tidak. Cinta kepada manusia juga merupakan perwujudan dari cinta kepada Allah. Hal inilah yang akan mendorong seseorang untuk berbuat baik kepada sesamanya. Bahkan, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia agar saling mengenal sekaligus mengasihi. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير

Wahai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu sekalian saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di antara kamu sekalian di sisi Allah ialah orang-orang yang paling takwa di antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. al-Hujurat: 13).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah pernah menyampaikan bahwa ada empat jenis yang harus dibedakan dalam cinta, jika tidak maka cinta itu akan menimbulkan kesesatan. empat hal yang harus dibedakan tersebut adalah:

1.      Cinta hanya kepada Allah Swt

2.      Cinta kepada apa yang dicintai oleh Allah Swt

3.      Cinta untuk dan karena Allah Swt

4.      Mencintai atau mensejajarkan dengan kecintaan Allah Swt.

            Untuk yang terakhir ini termasuk perbuatan syirik. Sehingga dalam mencintai lawan jenis yang terpenting adalah cinta karena Allah Swt. Maka dari itu, perhatikan apa yang kamu cintai, pastikan perasaan itu datang dari Allah Swt bukan hanya sekedar hawa nafsu belaka. Ini baru yang namanya cinta sejati.


2.     Saat cinta datang

Cinta adalah sesuatu yang tidak berwujud, namun dirasakan oleh setiap insan. Lalu, bisakah ia disebut sebagai hal yang abstrak? Silahkan simpan jawaban kalian masing-masing karena sekarang kita tidak akan lagi membahas apa itu cinta. Melainkan kita akan membicarakan apa yang terjadi tatkala cinta itu datang. Apa yang akan dilakukan oleh kebanyakan insan tatkala mulai mencintai sesuatu, terlebih lagi cinta kepada seseorang yang terasa spesial.

Cinta selalu datang tiba-tiba. Bagaimana tidak? Bukankah banyak sekali mereka yang awalnya membenci tiba-tiba berubah menjadi cinta? Atau bahkan saat pertama kali mata itu menatapnya, hati jadi tidak karuan. Bukankah itu juga cinta?. Tergantung kalian mau menganggapnya apa, yang jelas kebanyakan manusia menganggapnya sebagai cinta.

Saat cinta datang, seseorang itu cenderung ingin selalu berada di dekat apa yang ia cintai. Kemana pun dan kapan pun, selagi bisa berada didekatnya, ia bahagia. Jika tidak, ia akan merindukannya. Bahkan ketika sudah bertemu, sulit rasanya untuk berpisah.

Saat cinta datang, seseorang itu akan memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu untuk membahagiakan apa yang ia cintai. Baginya membahagiakan apa yang ia cintai itu merupakan hal yang sangat penting. Seseorang itu akan fokus untuk mendukung serta memahami kebutuhannya daripada kebutuhan sendiri. Cinta membuatnya rela melakukan apa pun.

  Kalau pun apa yang ia cintai memiliki banyak kekurangan, ia tidak peduli. Ia akan dengan senang hati menerima kekurangan itu. Bahkan, ia berharap bisa membantunya serta bisa mendukungnya setiap saat.

Ia akan senang saat memikirkannya. Cuman sekedar mengingatnya saja sudah membuatnya begitu gembira. Malah terkadang, sampai senyum-senyum sendiri. Bagi kalian yang pernah melihat orang yang seperti itu, cukup dimaklumi saja. Namanya juga orang lagi bahagia. Biarkan mereka mengekspresikan rasa senangnya itu. Siapa sangka cinta mampu membutakan seseorang?!

Saat cinta datang, semua itu akan terjadi- untuk kebanyakan orang tentunya-walau apa yang ia cintai tidak tahu tentang hal tersebut. Walau ternyata pada akhirnya cinta itu tidak pernah tersampaikan. Walau ternyata ia benar-benar hanya akan bungkam dan lebih memilih untuk memendamnya.

 

3.     Variasi dalam menyikapi cinta

Setelah merasakan reaksi datangnya cinta, lalu apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Apa ia akan langsung menghadap dan mengatakan “Aku mencintaimu!” dengan lantang? Atau salting-salting gak jelas pas berhadapan dengannya? Atau bahkan ia hanya akan diam membisu? Mungkin reaksi-reaksi ini terlihat berlebihan, namun memang itu yang terjadi.

bagi orang yang terbuka atau mudah berterus-terang, mungkin ia akan melakukan reaksi yang pertama. Ia akan langsung menghadap dan mengungkapkan cintanya. Entah apa yang ia pikirkan. Selagi hatinya lega, selesai. Masalah diterima atau tidak itu urusan akhir.

 Agaknya reaksi ini juga lumayan menguntungkan. Dengan begitu, ia gak akan menggantung cintanya pada suatu yang belum jelas. Kalau diterima, ia bahagia. Kalau ditolak, mungkin emang patah hati. Namun, patah hati itu akan sembuh seiring berjalannya waktu. Dan manusia jelas bukan hanya si dia. Masih banyak orang di luar sana. Kenapa tidak mencari yang lebih baik aja?! Kalau kalian bertanya, Apakah sesimpel itu? Jawabannya Wallahua’lam.

Tapi, jangan kira yang salting-salting gak jelas itu gak bahagia. Malahan, dengan sikapnya itu, ia merasakan nikmat sesungguhnya dari “kasmaran”. Baginya saat-saat itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan. Berusaha bersembunyi saat si dia datang. Eh, ternyata ketahuan. Pasti ia akan senyum-senyum gak jelas. Kemudian ketika si dia bertanya, ia akan menjawab seadanya. Entah jawaban itu benar atau tidak, karena pikirannya lagi kacau, ia pun hanya bisa mengucapkan apa yang ada di pikirannya saat itu. Lebih deg-degan lagi, jika ternyata ia keceplosan sebuah kalimat yang menandakan ia menyukainya.

Setelah si dia pergi, ia mungkin terlihat menyesal karena kebodohannya. Namun kebodohan itulah yang menjadi kenangan indah baginya. Biasanya hal ini dirasakan saat berada di bangku SMP terlebih lagi waktu SMA atau bahkan hanya terjadi di drama-drama? Entahlah. Yang pasti, Itulah “kasmaran”. Kalau kini kalian bertanya apakah memang seindah itu? Jawabannya ya, coba aja.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang lebih memilih untuk diam membisu? it’s okay. Itu bukan reaksi yang salah kok. Kenyataannya malah itu yang dianjurkan dalam Islam. Bukan berarti, karena kita punya perasaan, maka harus kita umbar-umbar. Bukan berarti pula, karena kita punya perasaan,  maka orang tersebut harus mengetahuinya walau hanya dari isyarat.

Toh, bagaimana pun Allah yang mengatur segalanya. Semua sudah ada catatannya. Tinggal tunggu waktu. Kalau memang bukan takdirnya, Allah pasti memisahkan. Dan sebaliknya, kalau emang takdir, maka Allah akan menyatukan. Bagaimanapun caranya gak akan ada yang mampu memisahkan. Pasti.

Namun, perlu diperhatikan! Biasanya orang yang seperti ini lebih sakit hatinya. Karena memang tak mudah memendam perasaan. Apalagi ada syaiton yang akan selalu membisikinya untuk berusaha menunjukkan cintanya sedangkan kita tau, bisikan syaithon itu benar-benar berbahaya. Terlebih lagi ini menyangkut perkara cinta yang selalu terlihat indah tatkala cinta itu tercapai. Butuh kesabaran dan keikhlasan yang sangat besar disini.

Bayangkan saja ketika yang lain dapat mengungkapkan cintanya lalu bisa menjalin hubungan (pacaran, maksudnya) atau mungkin yang lain bisa berusaha mendekat sambil mencuri-curi kesempatan, ia hanya bisa terdiam dan membisu. Ia tak bisa mengekspresikan cintanya itu secara langsung. Mungkin kini kalian bertanya, apakah memang sesulit itu? Jawabannya, iya! Kecuali untuk beberapa orang yang emang introvert dari sananya. Bahkan terkadang terlihat mudah bagi mereka, padahal sebenarnya, ia sangat merasakan sakit hati yang begitu mendalam. Pernahkah kalian mengalaminya? Kalau iya, semangat! Karena semua rasa sakit itu tak akan sia-sia. Insyaallah akan berbuah pahala jika niatnya lillah.

Sekiranya, begitulah kira-kira manusia bakalan bereaksi ketika mereka menyikapi cinta. Untuk reaksi lainnya mungkin jarang terjadi. Kalaupun kalian mendapati reaksi yang lain, cukup fahami saja, namanya orang lagi jatuh cinta.

Hem...jatuh cinta, ya...Pernah bayangin gak rasanya ditolak?!

Saat sudah merasa sangat yakin, ia yang sebelumnya selalu memendam, tiba-tiba mengungkapkan cintanya. Lah, ternyata si dia menolak dengan tegas. Atau mungkin saat melamar, sudah terlanjur menyiapkan mahar, seserahan, dan lain sebagainya, ternyata ditolak begitu saja.

Fyuh...dua peristiwa tadi, baik di depan umum atau tidak, tetap akan menimbulkan patah hati. Ia akan mulai menyelami masa-masa terpuruknya hati.

 

4.     Saat hati terpuruk

Patah hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan memang perkara yang sulit, ditambah lagi jika menyangkut soal cinta atau perasaan, segala sesuatu yang melibatkan perasaan selalu saja rumit. Namun, dari hal tersebut kita tau bahwa tidak semua kisah cinta akan berakhir dengan indah. Tentunya jika siap mencintai, maka juga harus siap terluka.

Masa-masa terpuruknya hati, merupakan masa-masa paling sulit bagi manusia. Mereka yang merasa hatinya telah disakiti tersebut, akan merasakan kesedihan yang amat mendalam. Mereka akan membohongi diri mereka sendiri dengan mengatakan “aku baik-baik saja” padahal sebenarnya tidak.

Hati mereka akan sangat rapuh. Mereka akan membiarkan semua duka dalam hati mereka, menguasai diri mereka. Mereka akan menyakiti diri mereka sendiri dengan mencoba mematikan perasaan yang bergejolak dalam hati mereka atau bahkan bersumpah untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan siapa pun dan kapan pun.

Tatkala hati terasa sesak saat mengingatnya, mereka akan cenderung mencari tempat sepi untuk menumpahkan air mata mereka. Dengan menangis keras, akan dapat meringankan rasa sakit itu walaupun cuman sementara. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih baik.

Mereka akan membiarkan pikiran negatif mengontrol cara pandang mereka tentang dunia yang ujung-ujungnya hanya akan menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang telah terjadi. Mereka lebih memilih bersendiri di tempat yang sepi sambil meratapi nasib. Seakan hidup sudah tak bermakna, semua hal yang membuat mereka bahagia seketika sirna tertutupi oleh memori-memori kesedihan dan kepahitan hidupnya.

 Mereka merasa sulit untuk menopang tubuh. Seakan semua energi mereka telah terkuras habis. Karena depresi, tidak ada satu pun dari apa yang mereka pikirkan tampak penting dalam hidup. Mereka juga tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal yang menyebabkan kesedihan.

Di samping semua itu, banyak juga, kok yang berusaha bangkit. Banyak juga yang tidak rela hatinya dikendalikan oleh kesedihan. Ia akan menghilangkan segala hal negatif yang mampu membuatnya tumbang.

Ia akan lebih memilih untuk bergaul dengan orang lain daripada menyendiri dan hanyut dalam ratapan nasib. Ia akan membuka matanya lebar-lebar untuk melihat dengan jelas bahwa masih banyak hal yang bisa dilakukan di dunia ini.

Daripada bikin orang lain khawatir, ia memilih untuk menyembunyikan rasa sakit itu lewat senyum dan tawanya. Dengan sekuat mungkin, ia menahan setiap air mata yang mungkin saja ingin menetes. Ia akan selalu mencoba untuk mengalihkan rasa sedih itu dengan kegembiraan atau candanya.

Sungguh sikap yang begitu bijak. Bukankah seharusnya memang begitu?! Boleh kalian bersedih atau bahkan menangis karena itu akan membuat hati merasa lebih baik, namun tidak seharusnya kita terus-terusan membiarkan semua perasaan duka itu tertancap terlalu dalam lalu menguasai diri kita. Emang kalian mau menghabiskan waktu hanya untuk meratapi nasib seperti itu? Sungguh hidup yang menyedihkan.   

 

Bagian kedua: hakikat dari patah hati

1.     Patah hati dalam perspektif Islam

Patah hati? Siapa sih yang belum pernah mengalaminya? Sangat wajar manusia biasa yang memang dianugrahi oleh Allah sebuah perasaan merasakannya. Entah karena putus cinta dengan kekasih, cinta yang bertepuk sebelah tangan, gagal ta’aruf atau mungkin yang lebih parah lagi, ditinggal menikah oleh orang yang selama ini seakan memberi harapan kepada kita.

Mau bagaimana lagi, bukankah mencintai adalah fitrah manusia? jadi, patah hati sudah pasti normal. Yang gak normal itu jika perasaan itu membuat kita terpuruk bertahun-tahun karena gagal move-on lalu sampai sakit-sakitan atau sampai membuat kita gila. Lalu, bagaimana pandangan islam tentang patah hati itu sendiri?.

Islam memandang cinta sebagai sebuah fitrah manusia, bahkan Repository UIN Banten mencatat, dengan berbagai bentuknya Alqur’an telah menyebut kata cinta hingga 93 kali. Kata tersebut ditulis baik dalam bentuk kata kerja masa lampau, kata kerja masa kini dan akan datang. Kesemuanya memiliki tujuan dan memberikan pelajaran kepada kita bahwa perasaan cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, tidak seharusnya kefitrahan itu kita tempatkan pada tempat yang salah.

Pada dasarnya, patah hati dianggap salah dalam Islam karena salah dalam menyikapi perasaan. Bukankah Allah SWT sudah sering kali mengingatkan kita untuk tidak berharap dan bergantung  kepada selain-Nya?!

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Dan kepada Rabb-mu lah kamu hendaknya berharap (QS. Al-Insyirah : 8)

Sebagi hamba Allah, sudah sepantasnya kita hanya berharap kepada Allah Ta’ala. Kita tentu tau bahwa cinta yang haqiqi hanyalah untuk Allah dan Rasul-Nya semata. Berkali-kali Allah sudah memperingatkan kita untuk berserah diri hanya kepadaNya. Bukan malah berharap pada manusia. Apalagi sampai menggantungkan harapan padanya. Berharap pada manusia hanya akan menghadirkan kekecewaan. Karena yang jelas mereka juga punya kekurangan ditambah lagi mereka juga memiliki sifat egois sebagaimana kita. Tidak seharusnya kita mencintai mereka secara berlebihan.

Dari sini, apakah kalian masih saja mudah jatuh cinta? Apa kalian masih saja berharap kepada manusia secara berlebihan? Kalau gitu terus, pada akhirnya, diri kita sendiri yang merasakan sakit. Karena apa? Karena tidak mampu menjaga kesucian hati.

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” (Imam Syafi’i)

Bagi kalian yang ternyata telah melakukannya, jangan begitu menyesalinya. Masih ada waktu untuk berubah. Toh, patah hati bukan suatu yang haram. Ia hanyalah sebuah perasaan yang lumrah namun kebanyakan orang terjebak di dalamnya. Keterpurukan itulah yang membuatnya menjadi suatu kesalahan dalam agama. Untuk patah hati yang biasa saja, jelaslah tidak masalah. Mulai sekarang cukup waspadai saja, jangan mau terjatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

 

2.     Hikmah di balik patah hati

Patah hati memang sangat menyakitkan. Namun, apakah dengan begitu kita akan membiarkan diri kita dikuasai olehnya?! Jangan! Buang jauh-jauh rasa duka yang begitu dalam tersebut. Jangan mau terlarut di dalamnya. Ingat, Allah tak pernah menciptakan suatu hal tanpa alasan. pasti ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang Dia kirimkan dalam kehidupan kita.

Mari kita renungkan bersama. Sebenarnya apa sih yang Allah rencanakan? Apa sih hikmah dibalik semua ini?

 

1.      Tandanya si “Dia” bukan jodoh kita

Pernahkan kalian berfikir, kenapa ya hubungan cintaku selalu kandas di tengah jalan? Atau bahkan, kenapa ya perkara cintaku selalu berhenti di awal, aku kan belum memulai apapun? Kenapa ia menolakku? Adakah yang salah dengan diriku? Huh....

Tenanglah...segala hal di dunia ini sudah diatur oleh Allah Ta’ala. Semua sudah tertulis di Lauhil Mahfudz. Termasuk juga perkara cinta manusia. Allah sudah menetapkan pasangan alias jodoh masing-masing. Kalau si “Dia” menolak, ya berarti emang bukan jodoh. Apabila ia jodoh kita, pasti akan mendekat sesulit apapun itu. Begitu pula sebaliknya. Jika bukan jodoh, ya bakalan dijauhkan sesulit apapun itu. Ketika Allah mengambil sesuatu yang berharga bagi kita, maka Allah jugalah yang akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Maka dari itu, tidak perlu gelisah, guys!.  

 

2.      Latihan kesabaran dan keikhlasan

Mencintai bukanlah hal yang salah tatkala berada di tempat yang benar. Patah hati juga begitu. Mengungkapkan perasaan pun kalau niatnya lillah juga tidak salah. Namun, mengapa rasanya sesulit ini? Mengapa keterpurukan ini hadir? Mengapa berbagai duka seakan berkumpul jadi satu dalam hati ini? Bukankah, kita tidak melakukan hal yang salah, terus kenapa Allah memberikan beban yang sangat berat ini kepada kita?

Kalau kalian pernah berpikir seperti ini, maka bersabarlah. Sadarlah ini hanya dunia. Dunia yang isinya selalu penuh dengan ujian. Dunia ini tidak kekal, ia akan hancur kelak saat hari kiamat. Allah sendiri yang akan menghancurkannya.

Sebagai seorang mukmin sudah seharusnya kita bersabar dan mengikhlaskan apa yang tidak menjadi milik kita. Sudah seharusnya kita bersabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap musibah yang entah kapan selesainya. Menerima apa yang telah Allah Swt takdirkan kepada kita itu wajib. Jangan terlalu memaksakan takdir. Apa yang sudah terjadi, terima saja. Hadapi dengan lapang dada. Ikhlaskan semua karena Allah. Setelah kalian mengikhlaskan si “Dia” karena Allah pastinya, dijamin hati kalian akan tenang. Kalian akan sadar bahwa itu bukan hal yang terburuk bagi kalian. Itu hanya sekedar lika-liku kehidupan yang memang selalu berputar dalam hidup kita di dunia ini.

Jadi, yang sabar, ya! Kita gak sendiri. Selalu ada Allah yang menemani.

 

3.      Belajar untuk percaya dengan ketentuan Allah

Mengapa begitu sulit bagi manusia untuk mempercayai ketentuan Allah? Manusia kerap kali tergesa-gesa dalam menyimpulkan sesuatu. Mereka sangat tidak sabaran. Mereka hanya sibuk memikirkan diri mereka sendiri. Padahal saat itu diri mereka lagi dikendalikan oleh hawa nafsu. Apakah mereka telah melupakan rahmat Allah yang tak terkira? Ataukah mereka tidak lupa melainkan berputus asa terhadap rahmat Allah tersebut?.

Mereka cenderung lebih memilih untuk menyalahkan takdir. Padahal, seperti yang kita tau, yang bikin takdir itu juga Allah. Bukankah itu berarti mereka juga menyalahkan Allah yang Maha Kuasa?

Perlu ditegaskan, Allah memang selalu memberi hambanya cobaan. Banyak sekali cobaan. Tapi, tidak mungkin Allah menguji hamba-Nya di luar kemampuan hamba itu sendiri. Bahkan, Allah sudah berjanji akan memberikan kemudahan bagi mereka serta kebahagiaan yang tak terkira di balik ujian tersebut.

Kebanyakan manusia selalu menganggap sebuah ujian itu adalah ujian terberat di dunia. Padahal, masih banyak yang mendapatkan ujian lebih susah dari pada ujian yang ia dapatkan. Mereka selalu berpikir bahwa mereka gak kuat lagi, mereka gak mampu lagi menghadapi ujian tersebut. Sejatinya, ia bisa. Cuman karena mindset nya yang selalu mendramatisir kehidupan itulah yang membuatnya selalu merasa keberatan. Mindset nya yang selalu bersu’udzon kepada Allah itulah yang membuat hidup mereka menderita sedemikian rupa.

Come on! Belajarlah untuk percaya dengan ketentuan Allah. Allah menjadikan rasa patah hati itu untuk kita bukan hanya sekedar ingin, tapi selalu ada alasannya. Allah ingin membuat kita belajar bahwa segalanya itu butuh proses. Apalagi dalam perkara cinta, proses sangat diperlukan. Proses apa itu?

Proses menuju kedewasaan. Sekarang pikirkan, tanpa proses kedewasaan yang bisa kita pelajari dari belajar ilmu agama, bisa-bisa suatu rumah tangga akan kandas dalam hitungan tahun. Menjaga suatu perasaan itu bukanlah hal yang mudah. Walau kalian percaya bahwa dengan saling percaya, saling memahami, dan saling menerima itu cukup, kalian kira mudah menjaga semua hal itu. Pernikahan itu dijalani dalam kurun waktu yang sangat lama. Bukan hanya sehari dua hari. Bukan juga sebulan dua bulan. Tapi, selama sisa hidup kalian. Masihkan kalian berpikir itu hal yang mudah?!.

  

4.       Peluang untuk berubah

Seperti yang kalian ketahui, tak semua kisah cinta berakhir indah. Bahkan beberapa malah berakhir tragis, pembunuhan contohnya. Di akhir zaman seperti ini, tak sedikit mereka yang menyimpan dendam terhadap mantan kekasihnya. Atau malahan bukan mantan, tapi cuman bekas orang yang pernah ia cintai. Memang, untuk orang yang belum paham betul tentang hikmah dari patah hati, hal seperti itu akan dengan mudah ia lakukan. Ia akan bertaruh apapun untuk melakukannya, walau harus merelakan ketenangan di masa mendatang. Hiii...ngeri!.

Kuharap kalian belum sampai pada tahap tersebut. Tidak, jangan pernah berpikir untuk masuk ke tahap itu. Sebagai gantinya, pikirkan saja dengan baik-baik. Seperti yang sudah ditegaskan sebelumnya, bahwa apa yang Allah takdirkan untuk kita itu yang terbaik untuk kita.

  Allah selalu punya rencana terbaik untuk kita. Allah pun tau kapan kita siap untuk masuk ke dalam perkara cinta yang sesungguhnya. Karena belum ada kesiapan, makanya Allah bikin si “Dia” menolak.

Dan mulai sekarang, please, buka mata kalian lebar-lebar. Kini bukan saatnya lagi kalian terpuruk. Bukan saatnya lagi bagi kalian untuk terus terhanyut dalam kesedihan. Lepaskan semua luka itu. Kalaupun kalian sulit untuk melupakannya, maka biarkan ia terus mengalir dalam otak kalian kemudian hadapi. Biasakan hati kalian dengan kepedihan tersebut. Sebuah luka dalam hati, sedikit demi sedikit akan sembuh lewat kebiasaan. Kalau memang sulit, maka berusahalah lebih lagi! Hadapi jangan biarkan ia menang atas hati kalian. Kalahkan ia dengan ketegaran hati.

Pernahkah kalian memikirkan perasaan “Waktu” yang sering kalian lalaikan itu? Dengan terlarut dalam kesedihan, hanya akan menghambat ibadahmu. Hanya akan membuatmu lupa akan Rabb yang selama ini selalu mendengarkan keluhan serta permintaanmu. Sadarlah! Dalam kurun waktu itu, kamu bisa memanfaatkannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan hanya dalam sosialisasi pastinya. Melainkan lebih utama daripada itu, menjadi pribadi yang baik dalam kethaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.     

Sekaranglah waktunya. Waktu kalian untuk bisa memanfaatkan lagi waktu dengan baik. Bukan hanya memikirkan si “Dia” yang telah membuat kalian patah hati. Allah maha membolak-balikkan hati, kok! Jika sekarang kalian berpikir ia merupakan satu-satunya orang yang kalian cintai di dunia ini, bisa jadi besok, Allah telah melunturkan perasaan tersebut. Allah mempertemukan kalian dengan seseorang yang ternyata lebih baik dan pastinya bisa menerima kalian bagaimanapun itu. Itulah, skenario Allah. Selalu tak terduga, indah dan menarik bagi mereka yang memang bisa memahaminya.

Jadi, mari manghargai waktu!

 

3.     Tips dalam menyikapi patah hati

Menurut seorang dosen psikologi dari Columbia University, Geraldine Downey, kebanyakan manusia menjadi lebih peka setelah ditolak. Bahkan, sebagian orang merasa ada yang salah dalam dirinya. Ia cenderung menyalahkan dirinya sendiri sehingga mereka kehilangan kepercayaan diri. Sampai-sampai ada yang menarik diri dari lingkungan. Akibatnya, ia cenderung melakukan hal-hal yang negatif. Inilah nasib mereka yang terlalu mendewakan perasaan.  

Dalam Islam, patah hati bisa diobati jika bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya. Bersungguh-sungguh ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Berikut beberapa tips untuk mengatasi patah hati dalam Islam:

1.      Berwudhu dan Sholat

Ketika kalian merasa sangat sedih, amarah serasa memuncak, pikiran ambyar dan hati tidak tenang, maka segeralah berwudlu lalu jalankan sholat. Kedua hal tersebut dapat meredakan emosi dan menstabilkan pikiran yang kalut, serta menjauhkan kita dari bisikan syaithon.

Dengan sholat itu sama saja kita membentengi hati kita dengan Tazkiyah an-Nafs yakni membersihkan jiwa kita dari penyakit hati agar tidak mudah jatuh saat tertimpa musibah.

 

2.      Meningkatkan Intensitas Membaca Al-Qur’an

Al-qur’an merupakan solusi yang tepat untuk menenangkan hati. Dengan banyak membaca al-Qur’an setiap hari secara rutin, dijamin rasa luka di hati, kesedihan, kekecewaan dan keterpurukan perlahan akan mulai berkurang.

Banyak sekali saudara kita yang telah mencobanya. Dan hasilnya terbukti bahwa al-Qur’an merupakan obat penyembuh hati yang paling mujarab, ia menjadi perantara Allah dalam memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang mengalami permasalahan hidup baik itu kesedihan, kekecewaan, bahkan keterpurukan.

 

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

 

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82).

 

Di samping itu, usahakan juga untuk membaca Al-Quran terjemahan. Sebab dengan memahami makna-makna ayat Al-Quran kita pun bisa semakin meningkatkan iman. Semoga hati kalian segera tenang dan damai. Aamiin.

 

3.      Memperbanyak Dzikir dan Menghadiri Majlis Ta’lim

Dengan banyak berdzikir alias mengingat Allah dapat menenangkan dan menentramkan hati. Dengan begitu, segala masalah dan kegundahan hati secara perlahan akan menghilang.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

 

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

 

Lalu, jangan lupa untuk sering menghadiri majlis ta’lim. Dengan begitu kita akan berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Mungkin saja kita bisa dapat ilmu baru akan agama Islam yang dapat membuat kita meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah sehingga daripada sendirian lalu membiarkan otak kita dipenuhi oleh rasa sedih dan bisikan syaithon, lebih baik kita menyibukkan diri dengan menggali ilmu sedalam-dalamnya.

 

4.      Berkhusnudhon Kepada Allah Swt

Sekarang kita akan menuju ke cara yang terakhir. Cara ini merupakan cara cepat dalam mengobati patah hati yaitu dengan berprasangka baik kepada Allah Swt.

 

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi Kamu membenci sesuatu, padahal Ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) Kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan Kamu tidak mengetahui,” (QS. al-Baqarah: 216).

 

Ini adalah hal yang sudah berulang kali di bahas disini. Berkhusnudhon kepada Allah Ta’ala. hal tersebut akan menjadi pendorong kita untuk ikhlas menerima kenyataan. Karena memang apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Dan siapa lagi yang bisa memberi kita kebahagiaan selain Allah? Manusia?! Tentu tidak. Toh, kita merasa bahagia dengan kehadiran mereka juga karena izin Allah.

Teruslah mencoba untuk melapangkan hati kalian kalau memang menurut kalian itu susah. Waktu terus berjalan. Jangan mau termakan oleh rasa kecewa. Ikhlaskan dan teruslah berkhusnudhon kepada Allah. Dengan begitu hidup akan menjadi lebih mudah dan hati bisa lebih gembira. Semua ujian Allah itu asalnya mudah. Namun, kalian sendirilah yang menjadikannya sulit.

Setelah mengikuti tips-tips di atas, bagaimana perasaan kalian?! Sadar, kan bahwa perjuangan itu suatu hal yang berat?! Yang terpenting, jangan pernah berputus asa. Semua usaha yang kalian lakukan selama ini jika lillah maka akan membuahkan pahala. Gak bakalan hilang sia-sia. Setelah itu, semoga tak ada rasa kesal, amarah ataupun benci dalam hati kita. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang pemaaf.

Kalau ternyata kalian terjatuh lagi di tengah jalan, maka segeralah bangkit dengan beristighfar dan do’akan yang terbaik untuk si “Dia” yang telah membuat kalian patah hati. Mengapa? Karena itu pertanda kalian telah mengikhlaskannya. Menyadari bahwa ia yang menolak itu memutuskan untuk pergi itu merupakan kehendak Allah. Bagaimanapu, Allah memang mempertemukan dan memisahkan siapapun yang Dia kehendaki.

Belajarlah untuk pasrah dan hanya menggantungkan harapan kepada Allah Ta’ala. dengan begitu, ketika kalian tersakiti, Allah akan mengobatinya segera, Allah akan segera menggantinya dengan yang lebih baik.

Sungguh beruntung orang-orang yang ketika ditimpa kegagalan, kesedihan, kekecewaan, ditinggalkan dan kejadian yang menyakitkan lainnya, dia menjadikannya sebagai jembatan untuk hijrah menjadi lebih baik dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Semoga kita dijadikan hamba-hamba yang kuat hatinya, dijauhkan dari dosa dan termasuk orang-orang yang banyak bersyukur. Aamiin ya rabbal’alamin.

 

Bagian ketiga: Kisah Mereka Yang Pernah Patah Hati



Kalau kalian berpikir hanya kalian yang merasakan patah hati, kalian salah besar. Dunia ini sudah diciptakan berabad-abad tahun yang lalu. Pastinya banyak sejarah yang telah terjadi dan pastinya lagi, banyak yang pernah merasakan cinta. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bukankah nabi Adam juga merasakan cinta? Manusia pertama yang diciptakan, yang merasakan berbagai kenikmatan jannah saja pernah jatuh cinta, apalagi anak turunnya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?.

Dari begitu banyaknya manusia yang hidup di dunia ini, apakah menurut kalian, cinta mereka semua adalah cinta yang terbalas? Tentu tidak. Gak semua orang yang merasa dirinya begitu lemah, tak punya kekuasaan, tak punya keahlian, gagal dalam kisah cintanya. Dan gak semua orang yang merasa dirinya paling tampan atau cantik, penuh dengan keahlian juga kekuasaan, berhasil dalam kisah cintanya.

Semua itu sudah Allah tentukan yang tentunya bertujuan untuk menguji keimanan hambaNya. Diantara mereka pula tidak semuanya gagal dalam menghadapi patah hati tersebut. Terlebih lagi para sahabat, ulama’ serta orang-orang sholeh lainnya, mereka bisa mengatasi rasa patah hati itu berdasarkan keimanan mereka. Jadi jangan mudah putus asa. Apapun takdir kalian, itulah yang terbaik untuk kalian. Mana mungkin Allah memberikan keburukan tanpa hikmah di baliknya? Ingat! Allah maha kuasa. Dia maha mengatur. Bahkan, masalah hati pun Dia yang membolak-balikkan.

 Semoga kisah-kisah berikut dapat menginspirasi kalian dalam kehidupan cinta kalian yang berliku-liku.

  

Kisah Cinta Salman Al-Farisi

Salman al-Farisi adalah salah satu sahabat nabi yang namanya tersohor diantara muslimin karena ide briliannya dalam perang Ahzab. Sebagai orang Persia, Salman mempunyai pengalaman perang yang tentunya berbeda dengan orang-orang Arab. Dengan kegigihan dan kecerdasannya, ia mengusulkan sebuah strategi perang yang pada akhirnya disetujui oleh Rasulullah Saw. yaitu jurang buatan yang dibuat mengelilingi area perbatasan Madinah atau yang biasa disebut dengan “Khandaq” . Namun, siapa sangka di balik kisah heroiknya tersebut, ada satu kisah cinta yang bisa diteladani.  

Saat itu, Salman mencintai seorang perempuan shalihah dari bani Laits. Perempuan Anshar yang sudah pasti asli Madinah. Ia pun bermaksud untuk menikahinya. Namun, karena ia seorang imigran Persia, ia tidak mengetahui adat melamar wanita di kalangan Madinah.

Akhirnya, Salman mendatangi sahabatnya yang bernama Abu Darda’- yang merupakan penduduk asli Madinah- untuk menemaninya saat melamar wanita impiannya tersebut.

Abu Darda’ pun sangat gembira mendengar hal tersebut. Bagaimana tidak? Setelah mendengar kabar baik itu, Abu Darda’ langsung menyanggupinya. Ia sangat senang mendengar sahabatnya berencana untuk menikah.

Setelah mempersiapkan segala yang diperlukan, Salman dan Abu Darda’ pun berangkat menuju ke kediaman wanita tersebut. Hati Salman sangat senang sekaligus gerogi. Setibanya disana, mereka disambut hangat oleh tuan rumah.

“Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga)-nya,” kata Abu Darda’ memulai pembicaraan dengan fasihnya berdialek bahasa Arab setempat.

Lalu ia melanjutkan maksud kedatangan mereka, “Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri Anda,”.

Mendengarnya hal tersebut, si wali wanita tersebut merasa sangat terhormat. Tak lain dan tak bukan, ia sangat senang kedatangan dua orang sahabat Rasulullah Saw yang terkenal, yang sudah dijamin kesholehannya pula, apalagi salah seorang diantara keduanya melamar putrinya.

“Sebuah kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah si wanita. Namun, beliau tidak langsung menerimanya. Bagaimanapun, sesuai dengan ajaran Rasulullah, beliau harus bertanya pendapat putrinya tentang lamaran tersebut.

 “Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” lanjut beliau.

Saat yang dinanti pun tiba. Si wanita tidak mau keluar ke ruang tamu lantaran malu. Ia hanya mengintip di balik tirai pintu. Ia terlihat membisikkan sesuatu kepada ibunya. Harap-harap cemas, Salman berharap apa yang ia inginkan diterima oleh si wanita.

Tak lama kemudian, si ibu datang dan berkata “mohon maaf kami perlu berterus-terang” ungkapan itu malah membuat Salman dan Abu Darda’ tegang.

“Maafkan kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” lanjut beliau. Seketika hati Salman hancur, namun ia berusaha untuk tetap tegar.Namun, Jika sahabatmu, Abu Darda’ mempunyai tujuan yang sama untuk meminang putri kami, maka dengan senang hati ia akan menerimanya,” lanjut ibu si wanita.

Salman membeku sesaat. Tubuhnya lemas, seakan tak kuat untuk berdiri lebih lama lagi. Wanita idaman yang hendak dipinangnya telah menolak dirinya, justru malah memilih sahabat yang hanya berniat untuk menemaninya.

Walau ia patah hati, ia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan akan takdir Allah Swt. Dengan ketegaran hatinya, Salman langsung memeluk sahabatnya itu.

Allahu akbar! Allahu akbar! Allahu akbar! Aku serahkan semua mahar yang telah Aku siapkan untukmu dan Aku pula yang akan menjadi saksi di hari pernikahanmu” ucapnya dengan kelapangan hatinya.

Sungguh sosok yang teguh, bijak, sekaligus cerdas. Bahkan saat mengalami patah hati pun, ia sama sekali tidak membenci sahabatnya. Ia malah ikut bahagia. Sungguh ketegaran hati yang patut untuk diteladani.

 

Mughits Dan Cintanya Yang Bertepuk Sebelah Tangan

Sebelumya, mari perkenalan dulu dengan seorang wanita yang teguh sekali pendiriannya. Sebut saja Barirah. Ia adalah seorang budak mukatabah. Tuannya memberinya syarat yang cukup berat yaitu dengan menyetorkan uang sekian-dalam jumlah yang cukup besar- setiap pekannya.

Lalu, mari perkenalan dengan suami yang sangat mencintainya. Sebut saja namanya Mughits. Dan ia seorang budak pula. Yap, seperti itulah mereka. Sepasang kekasih yang sama-sama budak.

Pada suatu hari, Barirah meminta bantuan Aisyah binti Abu Bakr, istri Rasulullah Saw. karena ia merasa keberatan denga syarat tuannya yang terlalu berat. Maka, Aisyah pun memerdekannya. Lewat tangan Aisyah ra. Status Barirah berubah. Dari budak menjadi wanita merdeka.

Di kondisi yang seperti ini, dalam syariat disebutkan bahwa seorang budak wanita yang menjadi istri budak laki-laki kemudian merdeka, maka baginya khiyar (pilihan untuk tetap dengan suaminya atau berpisah). Dan ternyata si Barirah lebih memilih untuk berpisah.

Keputusan Barirah begitu bulat. Bahkan, ia mengaku tidak akan mau lagi menjadi istri Mughits walau ia memberinya banyak harta. “Walau ia memberiku banyak harta, akau tetap gak akan mau untuk kembali lagi padanya.” Ujarnya yakin.

Lalu, bagaimana dengan Mughits? Bukankah ia sangat mencintai istrinya tersebut?. Yah, Mughits tetaplah Mughits. Karena cintanya begitu dalam, ia tidak mau melepaskannya atau bahkan merelakannya begitu saja. Ia begitu enggan untuk berpisah. Ia pun terus membuntuti mantan istrinya di jalanan kota Madinah sambil terus memohon.

Di mana pun Barirah berada, dapat dipastikan disana sudah pasti ada Mughits yang menanti cintanya dan berharap hatinya akan terbuka kembali untuknya. Di sepanjang jalanan, keduanya pun jadi perbincangan.

Sekali lagi, Mughits tetaplah Mughits. Ia tidak mudah menyerah. Ia masih saja melakukan berbagai cara untuk memperjuangkan cintanya. Berkali-kali, ia mencoba untuk membujuk Barirah, namun gagal. Perjuangan ini pun terdengar sampai ke telinga Rasulullah Saw.

Rasulullah pun merasa iba terhadapnya. Beliau pun tidak tinggal diam. Beliau bersabda kepada pamannya, Abbas.

"Wahai 'Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah, namun Barirah sedikit pun tidak mencintai Mughits?". Keduanya kemudian merasa kasian kepada Mughits. Toh, Mughits bukanlah orang yang jahat. Ia berakhlaq mulia, baik hati serta setia. Namun bagaimana pun juga mereka tidak bisa memaksa Barirah. Cinta tidak pernah bisa bohong.

Alhasil, Rasulullah pun menjadi perantara antara Mughits dengan Barirah agar keduanya kembali. Barirah sempat kaget waktu tau Rasulullah memanggilnya untuk membahas perkara ini.

Rasulullah bertanya,"Andai saja engkau mau kembali kepada Mughits?"

"Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahku?" tanya Barirah memastikan sebagai bentuk rasa hormatnya kepada Rasullullah. Kalaupun itu perintah, sudah pasti Barirah tidak akan melanggarnya.

"Aku hanya ingin mengasihani Mughits," jawab Rasulullah. Barirah terdiam.

"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi." Tegas Barirah.

Mendengar hal tersebut, Mughits pun terdiam. Untuk kesekian kalinya ia sadar bahwa cintanya telah ditolak. Namun, sekarang lebih jelas lagi. Sangat jelas. Bahwa Barirah sudah tidak ingin lagi hidup bersamanya. Rasulullah pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena memang pada dasarnya ini menyangkut perasaan dan itu hanya mereka yang tau. Wallahua’lam.

Begitulah kehidupan, tak semua yang kita inginkan akan terwujud. Sebesar apa pun usaha Mughits, jika Allah tidak menghendaki, maka hati Barirah tidak akan berubah.

Terkadang banyak orang yang menginginkan kita, namun tiada satu pun dari mereka yang kita inginkan. Sementara orang yang kita inginkan, justru tidak menginginkan kita. Bukan karena ia jahat ataupun banyak celah, juga bukan karena orang yang tidak menginginkannya tidak baik, tapi itulah pilihan dan hak.

Yang jelas, selalu ingatlah bahwa Allah yang maha menghendaki. Apa pun takdir yang Dia berikan, harus disyukuri dan diterima bagaimana pun itu. Karena Allah lebih tau apa yang terbaik buat kita. Tak segalanya yang kita anggap baik, itu baik di mata Allah.

 

Kisah Patah Hati Muhammad bin Abdullah

Kenalkah kalian dengan Muhammad Bin Abdullah? Pastinya. Mana mungkin kalian tidak mengenalnya. Beliau adalah seorang Nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt. di tengah kalangan orang Arab sebagai pembawa peringatan sekaligus kabar gembira. Beliau adalah teladan bagi umatnya. Terkenal dengan akhlaqnya yang begitu mulia sekaligus tampangnya yang begitu menawan. Kalau membicarakan tentang Rasulullah, semua terasa indah. Begitu sempurna. Seakan tak punya kekurangan. Idaman semua wanita.

Namun, siapa sangka ternyata Rasulullah pernah patah hati? Bahkan 2 kali. Bayangkan, manusia sesempurna itu ditolak oleh cinta pertamanya.

Semua itu terjadi sekitar 5 tahun sebelum beliau menikahi Khodijah, istri pertama beliau. Tepatnya ketika beliau berusia 20 tahun, beliau bertemu dengan cinta pertamanya. Siapakah wanita ini?

Fakhitah, itulah namanya. Ia merupakan putri keempat dari Abu Thalib- paman Rasulullah- yang dikenal dengan sebutan Ummu Hani’. Saat itu, rasa cinta telah tumbuh diantara mereka berdua. Maka ketika Rasulullah berusia 20 tahun, beliau berencana meminang sepupunya tersebut.

Sayangnya, Rasulullah kalah dengan Hubayrah, putra saudara ibu Abu Tholib yang berasal dari Bani Makhzum, yang ternyata juga telah melamar Fakhitah. Sehingga pinangan Rasulullah pun ditolak.

Ternyata, Abu Thalib memang telah memiliki rencana lain. Ia akan menikahkan putrinya yang cantik itu dengan Hubayrah yang terkenal sebagai penyair handal kala itu. Hubayrah merupakan seseorang yang berilmu dan bijak-layaknya Abu Tholib- sekaligus kaya raya. Ditambah lagi, kekuasaan Bani Makhzum di Mekkah semakin meningkat seiring dengan merosotnya kekuasaan Bani Hasyim.

Diketahui pula bahwa Aminah bin Wahab yang juga ibu dari Rasulullah berasal dari suku yang sama dengan Hubayrah yakni Bani Makhzum. Demi menjaga hubungan baik itulah, Abu tholib lebih memilih untuk menikahkan Ummu Hani’ denga Hubayrah daripada dengan Rasulullah.

“Wahai pamanku, mengapa kau tidak menikahkan Ummu Hani’ denganku?” tanya Muhammad lembut.

Abu Tholib hanya tersenyum dan menjawab, “Mereka telah menyerahkan putri mereka untuk kita nikahi”. Yang dimaksud dengan Abu Tholib adalah ibu Rasulullah sendiri, Aminah yang menikah dengan Abdullah bin Abdul Mutholib.

“Ketahuilah, seorang pria yang baik haruslah membalas kebaikan yang sama dengan apa yang telah mereka berikan kepada kita” tambah Abu Tholib. 

Tak ada pilihan lain bagi Rasulullah selain menerima dengan lapang dada. Apalagi beliau paham betul tradisi Arab saat itu. Beliau pun sadar, memang Fakhitah bukanlah takdirnya. Bahkan beliau berdoa kebahagiaan untuk mereka berdua.

Tak lama kemudian, Rasulullah bertemu dengan Khodijah yang merupakan seorang janda kaya raya sekaligus orang yang mempekerjakan beliau sebagai seorang pedagang. Karena sudah saling mengenal, tumbuhlah rasa cinta di hati Rasulullah. Begitu pula dengan Khodijah yang akhirnya melamar Rasulullah terlebih dahulu. Akhirnya di usia 25 tahun, Rasulullah menikahi Khodijah yang berusia 40 tahun.

Kisah cinta diantara keduanya menjadi kisah cinta paling romantis sepanjang sejarah. Selain berperan sebagai istri yang shalihah, Khadijah juga selalu menemani Rasulullah di kala suka dan duka. Ia selalu ada untuk mendukung Rasulullah kapan pun itu.

Namun, apalah daya, diusia 65 tahun, Khadijah meninggalkan Rasulullah untuk selama-lamanya. Rasulullah merasa sangat kehilangan. Kepedihan yang sangat besar telah menancap di hati Rasulullah. Rasa cinta yang sangat berarti itu, membuat beliau tidak ingin lagi menikah dengan orang lain.

Kalau saja Allah Swt tidak memerintahkan Rasulullah untuk menikah, niscaya beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Bagi beliau, pernikahan setelah itu hanyalah tuntutan risalah beliau. Sejatinya, tidak pernah bisa move on dari istri tercintanya tersebut walau telah 14 tahun sejak kepeninggalanya.

Bagaimana dengan Ummu Hani’? ia harus berpisah dengan suaminya yang enggan untuk masuk islam sedangkan Ummu Hani’ sendiri telah menjadi pengikut Rasulullah. Bahkan, ia harus mengurus empat anaknya sendirian tatkala ia menjadi janda.

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah sempat melamar kembali Ummu Hani’. Namun, Rasulullah kembali ditolak. Kalau dulu, ayahnya yang menolak, kini ia sendiri yang menolak.

“Wahai Rasulullah, tidak ada wanita yang tak ingin menjadi istrimu, begitu pula denganku. Sayangnya, aku memiliki banyak anak. Jika aku menikah denganmu, aku bingung harus memilih berat ke mana. Kalau aku berat kepada suami, aku takut menelantarkan anak-anakku yang masih kecil, dan jika aku berat kepada anak, aku takut zalim kepada hak suamiku. Daripada aku menjadi orang yang zalim, maaf saya tidak bisa menerima lamaran anda." Jelas Ummu Hani’.

Mau bagaimana lagi, yang bisa Rasulullah lakukan sekarang adalah mengikhlaskannya lagi. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa patah hati bukanlah akhir dari segalanya. Allah pasti telah merencanakan yang lebih baik. Begitulah skenario Allah, selalu mengejutkan. Sulit untuk ditebak.

Sudahlah! Jangan terlalu lama bersedih. Ambil aja hikmahnya. Ujian itu selalu ada dan di baliknya selalu ada hikmah yang menanti. Mulailah belajar menerima dengan ikhlas. Lapangkanlah dadamu, tak perlu resah apalagi sampai gelisah. Cukup intropeksi diri saja. Jadikan rasa patah hati tersebut sebagai langkah untuk membenahi diri.  


Kontradiksi Antara Jarh wa Ta'dil_PPT