N-Drama
Ia menatapku, tapi raut mukanya
berubah drastis. Yang sedari tadi terus tersenyum dan menatapku hangat kini
menjadi datar dan serius. Membuat senyum di wajahku memudar dengan sendirinya.
Hening, ia belum juga melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Keadaan sudah
berubah menjadi sangat tidak enak, seperti mendung pada musim semi. Canggung.
Benar-benar canggung. Jantungku berdebar panik saat celah bibirnya mulai
membuka.
“em..kita udahan aja, ya?” tanyanya.
Serius, lugas dan tanpa keraguan.
Apa? Dia bilang apa barusan?
Kukira aku salah
dengar. Tapi kemungkinannya kecil. Karena memang keadaan cukup sepi tanpa suara
lain dan ekspresinya menyatakan semuanya dengan amat jelas.
“M-maksudnya?” tanyaku dengan
bodohnya.
“Kita cukup sampai di sini aja” ia
tersenyum kaku. “selesai.”
Sebisa mungkin aku mencerna keadaan,
karena aku memang clueless. Kenapa tiba-tiba ia ingin mengakhiri
semuanya? Apa aku telah melakukan kesalahan?
“Ah...” aku mengangguk lemah.
“Tapi...kenapa? kenapa tiba-tiba...?”
“Aku suka orang lain, ” jawabnya
tenang. “Maaf. Aku kira kamu orang yang paling aku suka, ternyata bukan. Kamu
benar, kamu memang membosankan. Bahkan kita udah coba kegiatan baru hari ini,
tapi nggak ada bedanya.”
Begitu? Entahlah. Sakit, tapi lebih
ke mati rasa. I mean, semudah itu? Jadi senyumnya seharian tadi palsu?
Please, kamu bercanda, kan?
N-Drama End
Menurut kalian, apakah kisah di atas
menyakitkan? Ya. Sudah menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya, tiba-tiba
diputusin cuman karena alasan yang kurang masuk akal. Pasti sakit rasanya.
Sebagian pasti merasa dirinya adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia
ini. Bosan? Semua orang juga pasti bosan. Cuman, gak semua yang
memperlihatkannya. Lebih jelasnya lagi, di saat itu, siapa diantara mereka yang
mampu bertahan. Siapa diantara mereka yang mampu menutup rasa bosan itu dengan
kesetiaan. Sepertinya banyak kaum remaja yang mengalami peristiwa tersebut.
Kenyataannya, kisah cinta nyesek seperti di novel-novel tersebut, beneran
terjadi.
Kalau menurut kalian, kisah
“N-Drama” di atas sudah menyakitkan, percayalah! Banyak yang lebih menyakitkan
lagi. Malah bisa dibilang kisah itu hanyalah kisah yang terlalu sederhana, bagi
mereka yang sudah berpengalaman pastinya. Bukan hanya berpengalaman membaca
banyak cerita cinta, namun juga bagi mereka yang berpengalaman menjalani
kehidupan yang seperti itu.
Entahlah, tapi memang selalu ada cara bagi mereka
untuk memulainya. Juga, selalu ada cara bagi mereka untuk mengakhirinya. Disaat
itulah, selalu ada berbagai alasan bagi mereka untuk melepaskan hubungan. Entah
salah satu pihak ada yang tidak setuju, ataupun malah dua-duanya memang sudah
berencana seperti itu, gak akan berpengaruh besar dalam kehidupan mereka.
Karena pada dasarnya, hubungan mereka memang bukan hubungan yang resmi. Baik
resmi atas nama agama ataupun negara.
Peristiwa seperti itu jelaslah menimbulkan rasa
sakit dalam hati. Jika sudah seperti itu, siapa yang harus disalahkan? Orang
yang tiba-tiba memutuskan? Atau bahkan orang yang diputusin? Jelasnya mereka berdua
sama-sama salah. Siapa suruh menjalin hubungan yang seperti itu? Siapa yang
menyuruh mereka pacaran? Ujung-ujungnya patah hati kan?!.
Okey, mari kembali ke pembahasan yang sebenarnya.
Pembahasan di atas tidak perlu dibahas terlalu panjang. Karena memang bukan itu
yang akan menjadi fokus penjabaran selanjutnya. Untuk kasus diatas, yang jelas
rasa sakit karena cinta yang tertolak itu sudah jelas sebagai hukuman bagi
mereka karena telah melanggar syariat Allah Swt.
Lalu bagaimana dengan rasa sakit yang diterima
karena cinta yang sudah ditolak sejak awal? Apakah itu juga hukuman? Padahal,
ia berniat untuk melamar. Ia bahkan gak ada niatan sama sekali untuk
berpacaran. Ia benar-benar ingin menjalin hubungan yang sah sekaligus resmi,
baik dalam hal agama maupun negaranya. Mungkinkah itu memang hukuman untuknya?
Kalaupun bukan, terus apa arti dari patah hati tersebut?
Yap! Itulah yang akan kita bahas disini. Di dunia ini, manusia sangatlah banyak. Selain itu, mereka juga punya sifat yang berbeda-beda. Sangat beragam. Ada yang dingin, cuek, pendiam dan banyak lagi sifat lainnya. Bahkan ada yang sangat ceria, selalu berusaha meramaikan suasana untuk memendam kesedihannya. Dengan keberagaman sifat tersebut, apakah orang yang cintanya sudah ditolak sejak awal, memang selalu merasakan patah hati?! Lalu apakah arti sesungguhnya dari patah hati?!
Bagian
pertama: Mencintai adalah fitrah manusia
1. What is love?
Berbicara mengenai cinta, gak
bakalan selesai. Ia takkan selesai dibahas sampai kapan pun. Yang jelas, cinta
sangat identik dengan perasaan. Baik perasaan kasih sayang, suka, ataupun yang
lainnya.Tergantung bagaimana seseorang itu mendefinisikan cinta itu sendiri.
Siapa sih yang belum pernah merasakan cinta? Semua orang pasti pernah merasakannya.
Karena memang cinta itu sendiri adalah anugerah Allah yang diberikan kepada
setiap manusia. Sehingga mencintai adalah fitrah manusia. Dari sini, masih
adakah yang menolak bahwa dirinya pernah merasakan cinta?.
Cinta tidak hanya tertuju pada
pasangan, melainkan pada keluarga, sahabat, bahkan alam sekitar juga terdapat
cinta. Yang namanya cinta sudah pasti tertanam dalam hati seseorang. Namun,
memang cara mengungkapkannya berbeda-beda. Ada yang secara terang-terangan
menunjukkan rasa cintanya dalam pelukan, ciuman atau bahkan melontarkan
kata-kata manis kepada apa yang ia cintai. Ada juga yang sebaliknya. Ia tidak
pernah mengekspresikan rasa cinta itu sendiri. Ia hanya mengawasi dari jauh,
memperhatikan diam-diam bahkan tidak mau melontarkan kata-kata manis walau
cuman sekali. Begitulah manusia, sifatnya sangat beragam.
Menurut para ahli, cinta adalah
bentuk emosi manusia yang paling dalam serta paling diharapkan. Elemen yang
paling penting adalah perhatian dari apa yang ia cintai. Manusia mungkin akan
berbohong, mencuri, membunuh atas nama cinta bahkan lebih memilih mati daripada
kehilangan cinta. Ada juga yang mendefinisikan bahwa cinta adalah perasaan emosional
dan mental yang kompleks. Yang mana setiap individu mengalami tipe cinta yang
berbeda bentuk maupun kualitasnya.
Rasa cinta telah hadir sejak masa Nabi
Adam diciptakan. Dengan kemegahan jannah yang tak terkira tersebut, Nabi
Adam masih merasakan hampa. Mengapa? Karena tidak ada seseorang di sisinya.
Maka dari itu, Allah menciptakan Hawa, dari tulang rusuk Nabi Adam sendiri,
sebagai seseorang yang akan menemaninya. Sebagai cinta pertamanya sesama
manusia. Dengan begitu, kehampaan yang beliau rasakan pun lenyap seketika.
Hidup serasa lebih lengkap karena kehadirannya. Lalu, apa arti cinta menurut
Islam?
Dalam Islam cinta adalah limpahan
kasih sayang Allah Swt yang tak terhingga kepada seluruh makhlukNya. Cinta juga
dapat diartikan sebagai dasar ukhuwah antar manusia serta perasaan yang
menjadi landasan hubungannya dengan makhluk lain.
Kedudukan cinta yang paling utama
bagi manusia adalah cinta kepada Allah Swt. Dengan menjadikan Allah sebagai
prioritas pertama, akan memudahkan ia untuk selalu dan selalu berusaha
menta’ati segala perintah sesuai kemampuannya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Setelah mencintai Allah serta
menjadikan hal tersebut sebagai prioritas pertama, otomatis seseorang itu akan
mencintai serta berusaha untuk menjaga segala yang diciptakan-Nya. Termasuk
alam sekitar seperti menjaga lingkungan, merawat tumbuhan dan menyayangi hewan.
Terus, apakah cinta kepada sesama
manusia dilarang dalam Islam? Tentu tidak. Cinta kepada manusia juga merupakan
perwujudan dari cinta kepada Allah. Hal inilah yang akan mendorong seseorang
untuk berbuat baik kepada sesamanya. Bahkan, dalam al-Qur’an disebutkan bahwa
Allah menciptakan manusia agar saling mengenal sekaligus mengasihi. Sebagaimana
firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ
مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير
“Wahai manusia, sesungguhnya
kami menciptakan kamu sekalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
sekalian saling mengenal. Sesungguhnya orang-orang yang paling mulia di
antara kamu sekalian di sisi Allah ialah orang-orang yang paling takwa di
antara kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS.
al-Hujurat: 13).
Ibnu Qayyim
al-Jauziyyah Rahimahullah pernah menyampaikan bahwa ada empat jenis yang harus
dibedakan dalam cinta, jika tidak maka cinta itu akan menimbulkan kesesatan.
empat hal yang harus dibedakan tersebut adalah:
1.
Cinta hanya kepada
Allah Swt
2.
Cinta kepada apa
yang dicintai oleh Allah Swt
3.
Cinta untuk dan
karena Allah Swt
4.
Mencintai atau
mensejajarkan dengan kecintaan Allah Swt.
Untuk
yang terakhir ini termasuk perbuatan syirik. Sehingga dalam mencintai lawan
jenis yang terpenting adalah cinta karena Allah Swt. Maka dari itu, perhatikan apa yang kamu cintai, pastikan perasaan itu
datang dari Allah Swt bukan hanya sekedar hawa nafsu belaka. Ini baru yang
namanya cinta sejati.
2. Saat cinta datang
Cinta adalah sesuatu yang tidak
berwujud, namun dirasakan oleh setiap insan. Lalu, bisakah ia disebut sebagai
hal yang abstrak? Silahkan simpan jawaban kalian masing-masing karena sekarang
kita tidak akan lagi membahas apa itu cinta. Melainkan kita akan membicarakan
apa yang terjadi tatkala cinta itu datang. Apa yang akan dilakukan oleh
kebanyakan insan tatkala mulai mencintai sesuatu, terlebih lagi cinta kepada
seseorang yang terasa spesial.
Cinta selalu datang tiba-tiba.
Bagaimana tidak? Bukankah banyak sekali mereka yang awalnya membenci tiba-tiba
berubah menjadi cinta? Atau bahkan saat pertama kali mata itu menatapnya, hati
jadi tidak karuan. Bukankah itu juga cinta?. Tergantung kalian mau
menganggapnya apa, yang jelas kebanyakan manusia menganggapnya sebagai cinta.
Saat cinta datang, seseorang itu
cenderung ingin selalu berada di dekat apa yang ia cintai. Kemana pun dan kapan
pun, selagi bisa berada didekatnya, ia bahagia. Jika tidak, ia akan
merindukannya. Bahkan ketika sudah bertemu, sulit rasanya untuk berpisah.
Saat cinta datang, seseorang itu
akan memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu untuk membahagiakan apa yang ia
cintai. Baginya membahagiakan apa yang ia cintai itu merupakan hal yang sangat
penting. Seseorang itu akan fokus untuk mendukung serta memahami kebutuhannya
daripada kebutuhan sendiri. Cinta membuatnya rela melakukan apa pun.
Kalau
pun apa yang ia cintai memiliki banyak kekurangan, ia tidak peduli. Ia akan
dengan senang hati menerima kekurangan itu. Bahkan, ia berharap bisa
membantunya serta bisa mendukungnya setiap saat.
Ia akan senang saat memikirkannya.
Cuman sekedar mengingatnya saja sudah membuatnya begitu gembira. Malah
terkadang, sampai senyum-senyum sendiri. Bagi kalian yang pernah melihat orang
yang seperti itu, cukup dimaklumi saja. Namanya juga orang lagi bahagia.
Biarkan mereka mengekspresikan rasa senangnya itu. Siapa sangka cinta mampu
membutakan seseorang?!
Saat cinta datang, semua itu akan
terjadi- untuk kebanyakan orang tentunya-walau apa yang ia cintai tidak tahu
tentang hal tersebut. Walau ternyata pada akhirnya cinta itu tidak pernah
tersampaikan. Walau ternyata ia benar-benar hanya akan bungkam dan lebih
memilih untuk memendamnya.
3. Variasi dalam menyikapi cinta
Setelah merasakan reaksi datangnya
cinta, lalu apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Apa ia akan langsung
menghadap dan mengatakan “Aku mencintaimu!” dengan lantang? Atau
salting-salting gak jelas pas berhadapan dengannya? Atau bahkan ia hanya akan
diam membisu? Mungkin reaksi-reaksi ini terlihat berlebihan, namun memang itu
yang terjadi.
bagi orang yang terbuka atau mudah
berterus-terang, mungkin ia akan melakukan reaksi yang pertama. Ia akan
langsung menghadap dan mengungkapkan cintanya. Entah apa yang ia pikirkan.
Selagi hatinya lega, selesai. Masalah diterima atau tidak itu urusan akhir.
Agaknya reaksi ini juga lumayan menguntungkan.
Dengan begitu, ia gak akan menggantung cintanya pada suatu yang belum jelas.
Kalau diterima, ia bahagia. Kalau ditolak, mungkin emang patah hati. Namun,
patah hati itu akan sembuh seiring berjalannya waktu. Dan manusia jelas bukan
hanya si dia. Masih banyak orang di luar sana. Kenapa tidak mencari yang lebih
baik aja?! Kalau kalian bertanya, Apakah sesimpel itu? Jawabannya Wallahua’lam.
Tapi, jangan kira yang
salting-salting gak jelas itu gak bahagia. Malahan, dengan sikapnya itu, ia
merasakan nikmat sesungguhnya dari “kasmaran”. Baginya saat-saat itu
adalah saat-saat yang paling membahagiakan. Berusaha bersembunyi saat si dia
datang. Eh, ternyata ketahuan. Pasti ia akan senyum-senyum gak jelas. Kemudian
ketika si dia bertanya, ia akan menjawab seadanya. Entah jawaban itu benar atau
tidak, karena pikirannya lagi kacau, ia pun hanya bisa mengucapkan apa yang ada
di pikirannya saat itu. Lebih deg-degan lagi, jika ternyata ia
keceplosan sebuah kalimat yang menandakan ia menyukainya.
Setelah si dia pergi, ia mungkin
terlihat menyesal karena kebodohannya. Namun kebodohan itulah yang menjadi
kenangan indah baginya. Biasanya hal ini dirasakan saat berada di bangku SMP
terlebih lagi waktu SMA atau bahkan hanya terjadi di drama-drama? Entahlah.
Yang pasti, Itulah “kasmaran”. Kalau kini kalian bertanya apakah memang
seindah itu? Jawabannya ya, coba aja.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang
lebih memilih untuk diam membisu? it’s okay. Itu bukan reaksi yang salah kok.
Kenyataannya malah itu yang dianjurkan dalam Islam. Bukan berarti, karena kita
punya perasaan, maka harus kita umbar-umbar. Bukan berarti pula, karena kita
punya perasaan, maka orang tersebut
harus mengetahuinya walau hanya dari isyarat.
Toh, bagaimana pun Allah yang
mengatur segalanya. Semua sudah ada catatannya. Tinggal tunggu waktu. Kalau
memang bukan takdirnya, Allah pasti memisahkan. Dan sebaliknya, kalau emang
takdir, maka Allah akan menyatukan. Bagaimanapun caranya gak akan ada yang
mampu memisahkan. Pasti.
Namun, perlu diperhatikan! Biasanya
orang yang seperti ini lebih sakit hatinya. Karena memang tak mudah memendam
perasaan. Apalagi ada syaiton yang akan selalu membisikinya untuk berusaha
menunjukkan cintanya sedangkan kita tau, bisikan syaithon itu benar-benar
berbahaya. Terlebih lagi ini menyangkut perkara cinta yang selalu terlihat
indah tatkala cinta itu tercapai. Butuh kesabaran dan keikhlasan yang sangat
besar disini.
Bayangkan saja ketika yang lain
dapat mengungkapkan cintanya lalu bisa menjalin hubungan (pacaran, maksudnya)
atau mungkin yang lain bisa berusaha mendekat sambil mencuri-curi kesempatan,
ia hanya bisa terdiam dan membisu. Ia tak bisa mengekspresikan cintanya itu
secara langsung. Mungkin kini kalian bertanya, apakah memang sesulit itu?
Jawabannya, iya! Kecuali untuk beberapa orang yang emang introvert dari
sananya. Bahkan terkadang terlihat mudah bagi mereka, padahal sebenarnya, ia
sangat merasakan sakit hati yang begitu mendalam. Pernahkah kalian
mengalaminya? Kalau iya, semangat! Karena semua rasa sakit itu tak akan
sia-sia. Insyaallah akan berbuah pahala jika niatnya lillah.
Sekiranya, begitulah kira-kira
manusia bakalan bereaksi ketika mereka menyikapi cinta. Untuk reaksi lainnya
mungkin jarang terjadi. Kalaupun kalian mendapati reaksi yang lain, cukup
fahami saja, namanya orang lagi jatuh cinta.
Hem...jatuh cinta, ya...Pernah
bayangin gak rasanya ditolak?!
Saat sudah merasa sangat yakin, ia
yang sebelumnya selalu memendam, tiba-tiba mengungkapkan cintanya. Lah,
ternyata si dia menolak dengan tegas. Atau mungkin saat melamar, sudah
terlanjur menyiapkan mahar, seserahan, dan lain sebagainya, ternyata ditolak
begitu saja.
Fyuh...dua peristiwa tadi, baik di
depan umum atau tidak, tetap akan menimbulkan patah hati. Ia akan mulai
menyelami masa-masa terpuruknya hati.
4. Saat hati terpuruk
Patah hati karena cinta yang
bertepuk sebelah tangan memang perkara yang sulit, ditambah lagi jika
menyangkut soal cinta atau perasaan, segala sesuatu yang melibatkan perasaan
selalu saja rumit. Namun, dari hal tersebut kita tau bahwa tidak semua kisah
cinta akan berakhir dengan indah. Tentunya jika siap mencintai, maka juga harus
siap terluka.
Masa-masa terpuruknya hati,
merupakan masa-masa paling sulit bagi manusia. Mereka yang merasa hatinya telah
disakiti tersebut, akan merasakan kesedihan yang amat mendalam. Mereka akan
membohongi diri mereka sendiri dengan mengatakan “aku baik-baik saja” padahal
sebenarnya tidak.
Hati mereka akan sangat rapuh.
Mereka akan membiarkan semua duka dalam hati mereka, menguasai diri mereka.
Mereka akan menyakiti diri mereka sendiri dengan mencoba mematikan perasaan
yang bergejolak dalam hati mereka atau bahkan bersumpah untuk tidak menjalin
hubungan lagi dengan siapa pun dan kapan pun.
Tatkala hati terasa sesak saat
mengingatnya, mereka akan cenderung mencari tempat sepi untuk menumpahkan air
mata mereka. Dengan menangis keras, akan dapat meringankan rasa sakit itu
walaupun cuman sementara. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih baik.
Mereka akan membiarkan pikiran
negatif mengontrol cara pandang mereka tentang dunia yang ujung-ujungnya hanya
akan menyalahkan diri mereka sendiri atas apa yang telah terjadi. Mereka lebih
memilih bersendiri di tempat yang sepi sambil meratapi nasib. Seakan hidup
sudah tak bermakna, semua hal yang membuat mereka bahagia seketika sirna
tertutupi oleh memori-memori kesedihan dan kepahitan hidupnya.
Mereka merasa sulit untuk menopang tubuh.
Seakan semua energi mereka telah terkuras habis. Karena depresi, tidak ada satu
pun dari apa yang mereka pikirkan tampak penting dalam hidup. Mereka juga tidak
bisa berhenti memikirkan hal-hal yang menyebabkan kesedihan.
Di samping semua itu, banyak juga, kok yang
berusaha bangkit. Banyak juga yang tidak rela hatinya dikendalikan oleh
kesedihan. Ia akan menghilangkan segala hal negatif yang mampu membuatnya
tumbang.
Ia akan lebih memilih untuk bergaul dengan orang
lain daripada menyendiri dan hanyut dalam ratapan nasib. Ia akan membuka
matanya lebar-lebar untuk melihat dengan jelas bahwa masih banyak hal yang bisa
dilakukan di dunia ini.
Daripada bikin orang lain khawatir, ia memilih
untuk menyembunyikan rasa sakit itu lewat senyum dan tawanya. Dengan sekuat
mungkin, ia menahan setiap air mata yang mungkin saja ingin menetes. Ia akan
selalu mencoba untuk mengalihkan rasa sedih itu dengan kegembiraan atau
candanya.
Sungguh sikap yang begitu bijak. Bukankah seharusnya memang begitu?! Boleh kalian bersedih atau bahkan menangis karena itu akan membuat hati merasa lebih baik, namun tidak seharusnya kita terus-terusan membiarkan semua perasaan duka itu tertancap terlalu dalam lalu menguasai diri kita. Emang kalian mau menghabiskan waktu hanya untuk meratapi nasib seperti itu? Sungguh hidup yang menyedihkan.
Bagian
kedua: hakikat dari patah hati
1.
Patah
hati dalam perspektif Islam
Patah hati? Siapa sih yang belum
pernah mengalaminya? Sangat wajar manusia biasa yang memang dianugrahi oleh
Allah sebuah perasaan merasakannya. Entah karena putus cinta dengan kekasih,
cinta yang bertepuk sebelah tangan, gagal ta’aruf atau mungkin yang lebih parah
lagi, ditinggal menikah oleh orang yang selama ini seakan memberi harapan
kepada kita.
Mau bagaimana lagi, bukankah
mencintai adalah fitrah manusia? jadi, patah hati sudah pasti normal. Yang gak
normal itu jika perasaan itu membuat kita terpuruk bertahun-tahun karena gagal move-on
lalu sampai sakit-sakitan atau sampai membuat kita gila. Lalu, bagaimana
pandangan islam tentang patah hati itu sendiri?.
Islam memandang cinta sebagai
sebuah fitrah manusia, bahkan Repository UIN Banten mencatat, dengan
berbagai bentuknya Alqur’an telah menyebut kata cinta hingga 93 kali. Kata
tersebut ditulis baik dalam bentuk kata kerja masa lampau, kata kerja masa kini
dan akan datang. Kesemuanya memiliki tujuan dan memberikan pelajaran kepada
kita bahwa perasaan cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, tidak
seharusnya kefitrahan itu kita tempatkan pada tempat yang salah.
Pada dasarnya, patah hati dianggap
salah dalam Islam karena salah dalam menyikapi perasaan. Bukankah Allah SWT
sudah sering kali mengingatkan kita untuk tidak berharap dan bergantung kepada selain-Nya?!
وَإِلَى
رَبِّكَ فَارْغَبْ
“Dan kepada Rabb-mu lah kamu hendaknya berharap” (QS. Al-Insyirah : 8)
Sebagi hamba Allah, sudah sepantasnya kita hanya
berharap kepada Allah Ta’ala. Kita tentu tau bahwa cinta yang haqiqi hanyalah
untuk Allah dan Rasul-Nya semata. Berkali-kali Allah sudah memperingatkan kita
untuk berserah diri hanya kepadaNya. Bukan malah berharap pada manusia. Apalagi
sampai menggantungkan harapan padanya. Berharap pada manusia hanya akan
menghadirkan kekecewaan. Karena yang jelas mereka juga punya kekurangan
ditambah lagi mereka juga memiliki sifat egois sebagaimana kita. Tidak
seharusnya kita mencintai mereka secara berlebihan.
Dari sini, apakah kalian masih saja mudah jatuh
cinta? Apa kalian masih saja berharap kepada manusia secara berlebihan? Kalau
gitu terus, pada akhirnya, diri kita sendiri yang merasakan sakit. Karena apa?
Karena tidak mampu menjaga kesucian hati.
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” (Imam Syafi’i)
Bagi kalian yang ternyata telah melakukannya,
jangan begitu menyesalinya. Masih ada waktu untuk berubah. Toh, patah hati
bukan suatu yang haram. Ia hanyalah sebuah perasaan yang lumrah namun
kebanyakan orang terjebak di dalamnya. Keterpurukan itulah yang membuatnya
menjadi suatu kesalahan dalam agama. Untuk patah hati yang biasa saja, jelaslah
tidak masalah. Mulai sekarang cukup waspadai saja, jangan mau terjatuh ke dalam
lubang yang sama untuk kedua kalinya.
2.
Hikmah
di balik patah hati
Patah hati memang sangat
menyakitkan. Namun, apakah dengan begitu kita akan membiarkan diri kita
dikuasai olehnya?! Jangan! Buang jauh-jauh rasa duka yang begitu dalam
tersebut. Jangan mau terlarut di dalamnya. Ingat, Allah tak pernah menciptakan suatu
hal tanpa alasan. pasti ada hikmah dibalik setiap peristiwa yang Dia kirimkan
dalam kehidupan kita.
Mari kita renungkan bersama.
Sebenarnya apa sih yang Allah rencanakan? Apa sih hikmah dibalik semua ini?
1. Tandanya si “Dia” bukan jodoh kita
Pernahkan kalian berfikir, kenapa
ya hubungan cintaku selalu kandas di tengah jalan? Atau bahkan, kenapa ya
perkara cintaku selalu berhenti di awal, aku kan belum memulai apapun? Kenapa
ia menolakku? Adakah yang salah dengan diriku? Huh....
Tenanglah...segala hal di dunia ini
sudah diatur oleh Allah Ta’ala. Semua sudah tertulis di Lauhil Mahfudz.
Termasuk juga perkara cinta manusia. Allah sudah menetapkan pasangan alias
jodoh masing-masing. Kalau si “Dia” menolak, ya berarti emang bukan jodoh. Apabila
ia jodoh kita, pasti akan mendekat sesulit apapun itu. Begitu pula sebaliknya.
Jika bukan jodoh, ya bakalan dijauhkan sesulit apapun itu. Ketika Allah
mengambil sesuatu yang berharga bagi kita, maka Allah jugalah yang akan
menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Maka dari itu, tidak perlu gelisah,
guys!.
2. Latihan kesabaran dan keikhlasan
Mencintai bukanlah hal yang salah
tatkala berada di tempat yang benar. Patah hati juga begitu. Mengungkapkan
perasaan pun kalau niatnya lillah juga tidak salah. Namun, mengapa
rasanya sesulit ini? Mengapa keterpurukan ini hadir? Mengapa berbagai duka
seakan berkumpul jadi satu dalam hati ini? Bukankah, kita tidak melakukan hal
yang salah, terus kenapa Allah memberikan beban yang sangat berat ini kepada
kita?
Kalau kalian pernah berpikir
seperti ini, maka bersabarlah. Sadarlah ini hanya dunia. Dunia yang isinya
selalu penuh dengan ujian. Dunia ini tidak kekal, ia akan hancur kelak saat
hari kiamat. Allah sendiri yang akan menghancurkannya.
Sebagai seorang mukmin sudah
seharusnya kita bersabar dan mengikhlaskan apa yang tidak menjadi milik kita.
Sudah seharusnya kita bersabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap musibah yang
entah kapan selesainya. Menerima apa yang telah Allah Swt takdirkan kepada kita
itu wajib. Jangan terlalu memaksakan takdir. Apa yang sudah terjadi, terima
saja. Hadapi dengan lapang dada. Ikhlaskan semua karena Allah. Setelah kalian
mengikhlaskan si “Dia” karena Allah pastinya, dijamin hati kalian akan tenang.
Kalian akan sadar bahwa itu bukan hal yang terburuk bagi kalian. Itu hanya
sekedar lika-liku kehidupan yang memang selalu berputar dalam hidup kita di
dunia ini.
Jadi, yang sabar, ya! Kita gak
sendiri. Selalu ada Allah yang menemani.
3. Belajar untuk percaya dengan ketentuan Allah
Mengapa begitu sulit bagi manusia
untuk mempercayai ketentuan Allah? Manusia kerap kali tergesa-gesa dalam
menyimpulkan sesuatu. Mereka sangat tidak sabaran. Mereka hanya sibuk
memikirkan diri mereka sendiri. Padahal saat itu diri mereka lagi dikendalikan
oleh hawa nafsu. Apakah mereka telah melupakan rahmat Allah yang tak terkira? Ataukah
mereka tidak lupa melainkan berputus asa terhadap rahmat Allah tersebut?.
Mereka cenderung lebih memilih
untuk menyalahkan takdir. Padahal, seperti yang kita tau, yang bikin takdir itu
juga Allah. Bukankah itu berarti mereka juga menyalahkan Allah yang Maha Kuasa?
Perlu ditegaskan, Allah memang
selalu memberi hambanya cobaan. Banyak sekali cobaan. Tapi, tidak mungkin Allah
menguji hamba-Nya di luar kemampuan hamba itu sendiri. Bahkan, Allah sudah
berjanji akan memberikan kemudahan bagi mereka serta kebahagiaan yang tak
terkira di balik ujian tersebut.
Kebanyakan manusia selalu
menganggap sebuah ujian itu adalah ujian terberat di dunia. Padahal, masih
banyak yang mendapatkan ujian lebih susah dari pada ujian yang ia dapatkan.
Mereka selalu berpikir bahwa mereka gak kuat lagi, mereka gak mampu lagi
menghadapi ujian tersebut. Sejatinya, ia bisa. Cuman karena mindset nya
yang selalu mendramatisir kehidupan itulah yang membuatnya selalu merasa
keberatan. Mindset nya yang selalu bersu’udzon kepada Allah itulah yang
membuat hidup mereka menderita sedemikian rupa.
Come on!
Belajarlah untuk percaya dengan ketentuan Allah. Allah menjadikan rasa patah
hati itu untuk kita bukan hanya sekedar ingin, tapi selalu ada alasannya. Allah
ingin membuat kita belajar bahwa segalanya itu butuh proses. Apalagi dalam
perkara cinta, proses sangat diperlukan. Proses apa itu?
Proses menuju kedewasaan. Sekarang pikirkan,
tanpa proses kedewasaan yang bisa kita pelajari dari belajar ilmu agama,
bisa-bisa suatu rumah tangga akan kandas dalam hitungan tahun. Menjaga suatu
perasaan itu bukanlah hal yang mudah. Walau kalian percaya bahwa dengan saling
percaya, saling memahami, dan saling menerima itu cukup, kalian kira mudah
menjaga semua hal itu. Pernikahan itu dijalani dalam kurun waktu yang sangat
lama. Bukan hanya sehari dua hari. Bukan juga sebulan dua bulan. Tapi, selama
sisa hidup kalian. Masihkan kalian berpikir itu hal yang mudah?!.
4. Peluang untuk
berubah
Seperti yang kalian ketahui, tak
semua kisah cinta berakhir indah. Bahkan beberapa malah berakhir tragis,
pembunuhan contohnya. Di akhir zaman seperti ini, tak sedikit mereka yang
menyimpan dendam terhadap mantan kekasihnya. Atau malahan bukan mantan, tapi
cuman bekas orang yang pernah ia cintai. Memang, untuk orang yang belum paham
betul tentang hikmah dari patah hati, hal seperti itu akan dengan mudah ia
lakukan. Ia akan bertaruh apapun untuk melakukannya, walau harus merelakan
ketenangan di masa mendatang. Hiii...ngeri!.
Kuharap kalian belum sampai pada
tahap tersebut. Tidak, jangan pernah berpikir untuk masuk ke tahap itu. Sebagai
gantinya, pikirkan saja dengan baik-baik. Seperti yang sudah ditegaskan
sebelumnya, bahwa apa yang Allah takdirkan untuk kita itu yang terbaik untuk
kita.
Allah
selalu punya rencana terbaik untuk kita. Allah pun tau kapan kita siap untuk
masuk ke dalam perkara cinta yang sesungguhnya. Karena belum ada kesiapan,
makanya Allah bikin si “Dia” menolak.
Dan mulai sekarang, please,
buka mata kalian lebar-lebar. Kini bukan saatnya lagi kalian terpuruk. Bukan
saatnya lagi bagi kalian untuk terus terhanyut dalam kesedihan. Lepaskan semua
luka itu. Kalaupun kalian sulit untuk melupakannya, maka biarkan ia terus
mengalir dalam otak kalian kemudian hadapi. Biasakan hati kalian dengan
kepedihan tersebut. Sebuah luka dalam hati, sedikit demi sedikit akan sembuh
lewat kebiasaan. Kalau memang sulit, maka berusahalah lebih lagi! Hadapi jangan
biarkan ia menang atas hati kalian. Kalahkan ia dengan ketegaran hati.
Pernahkah kalian memikirkan
perasaan “Waktu” yang sering kalian lalaikan itu? Dengan terlarut dalam
kesedihan, hanya akan menghambat ibadahmu. Hanya akan membuatmu lupa akan Rabb
yang selama ini selalu mendengarkan keluhan serta permintaanmu. Sadarlah! Dalam
kurun waktu itu, kamu bisa memanfaatkannya untuk menjadi pribadi yang lebih
baik. Bukan hanya dalam sosialisasi pastinya. Melainkan lebih utama daripada
itu, menjadi pribadi yang baik dalam kethaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sekaranglah waktunya. Waktu kalian
untuk bisa memanfaatkan lagi waktu dengan baik. Bukan hanya memikirkan si “Dia”
yang telah membuat kalian patah hati. Allah maha membolak-balikkan hati, kok!
Jika sekarang kalian berpikir ia merupakan satu-satunya orang yang kalian
cintai di dunia ini, bisa jadi besok, Allah telah melunturkan perasaan
tersebut. Allah mempertemukan kalian dengan seseorang yang ternyata lebih baik
dan pastinya bisa menerima kalian bagaimanapun itu. Itulah, skenario Allah.
Selalu tak terduga, indah dan menarik bagi mereka yang memang bisa memahaminya.
Jadi, mari manghargai waktu!
3.
Tips
dalam menyikapi patah hati
Menurut seorang dosen psikologi
dari Columbia University, Geraldine Downey, kebanyakan manusia menjadi lebih
peka setelah ditolak. Bahkan, sebagian orang merasa ada yang salah dalam
dirinya. Ia cenderung menyalahkan dirinya sendiri sehingga mereka kehilangan
kepercayaan diri. Sampai-sampai ada yang menarik diri dari lingkungan. Akibatnya,
ia cenderung melakukan hal-hal yang negatif. Inilah nasib mereka yang terlalu
mendewakan perasaan.
Dalam Islam, patah hati bisa
diobati jika bersungguh-sungguh untuk kembali kepada-Nya. Bersungguh-sungguh
ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Berikut beberapa tips untuk
mengatasi patah hati dalam Islam:
1.
Berwudhu
dan Sholat
Ketika
kalian merasa sangat sedih, amarah serasa memuncak, pikiran ambyar dan hati
tidak tenang, maka segeralah berwudlu lalu jalankan sholat. Kedua hal tersebut
dapat meredakan emosi dan menstabilkan pikiran yang kalut, serta menjauhkan
kita dari bisikan syaithon.
Dengan
sholat itu sama saja kita membentengi hati kita dengan Tazkiyah an-Nafs
yakni membersihkan jiwa kita dari penyakit hati agar tidak mudah jatuh saat
tertimpa musibah.
2.
Meningkatkan
Intensitas Membaca Al-Qur’an
Al-qur’an
merupakan solusi yang tepat untuk menenangkan hati. Dengan banyak membaca
al-Qur’an setiap hari secara rutin, dijamin rasa luka di hati, kesedihan,
kekecewaan dan keterpurukan perlahan akan mulai berkurang.
Banyak
sekali saudara kita yang telah mencobanya. Dan hasilnya terbukti bahwa
al-Qur’an merupakan obat penyembuh hati yang paling mujarab, ia menjadi
perantara Allah dalam memberikan jalan keluar kepada orang-orang yang mengalami
permasalahan hidup baik itu kesedihan, kekecewaan, bahkan keterpurukan.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ
لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang dzalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82).
Di samping itu, usahakan juga untuk membaca Al-Quran terjemahan.
Sebab dengan memahami makna-makna ayat Al-Quran kita pun bisa semakin
meningkatkan iman. Semoga hati kalian segera tenang dan damai. Aamiin.
3.
Memperbanyak
Dzikir dan Menghadiri Majlis Ta’lim
Dengan
banyak berdzikir alias mengingat Allah dapat menenangkan dan menentramkan hati.
Dengan begitu, segala masalah dan kegundahan hati secara perlahan akan
menghilang.
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا
بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi
tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Lalu, jangan lupa untuk sering menghadiri majlis ta’lim. Dengan
begitu kita akan berkumpul dengan orang-orang yang sholeh. Mungkin saja kita
bisa dapat ilmu baru akan agama Islam yang dapat membuat kita meningkatkan
ketaqwaan kita kepada Allah sehingga daripada sendirian lalu membiarkan otak
kita dipenuhi oleh rasa sedih dan bisikan syaithon, lebih baik kita menyibukkan
diri dengan menggali ilmu sedalam-dalamnya.
4.
Berkhusnudhon Kepada
Allah Swt
Sekarang
kita akan menuju ke cara yang terakhir. Cara ini merupakan cara cepat dalam
mengobati patah hati yaitu dengan berprasangka baik kepada Allah Swt.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ
تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا
تَعْلَمُونَ
“Boleh
jadi Kamu membenci sesuatu, padahal Ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula)
Kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui,
sedangkan Kamu tidak mengetahui,” (QS. al-Baqarah: 216).
Ini
adalah hal yang sudah berulang kali di bahas disini. Berkhusnudhon kepada Allah
Ta’ala. hal tersebut akan menjadi pendorong kita untuk ikhlas menerima
kenyataan. Karena memang apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut
Allah. Dan siapa lagi yang bisa memberi kita kebahagiaan selain Allah? Manusia?!
Tentu tidak. Toh, kita merasa bahagia dengan kehadiran mereka juga karena izin
Allah.
Teruslah
mencoba untuk melapangkan hati kalian kalau memang menurut kalian itu susah.
Waktu terus berjalan. Jangan mau termakan oleh rasa kecewa. Ikhlaskan dan
teruslah berkhusnudhon kepada Allah. Dengan begitu hidup akan menjadi lebih mudah
dan hati bisa lebih gembira. Semua ujian Allah itu asalnya mudah. Namun, kalian
sendirilah yang menjadikannya sulit.
Setelah mengikuti tips-tips di
atas, bagaimana perasaan kalian?! Sadar, kan bahwa perjuangan itu suatu hal
yang berat?! Yang terpenting, jangan pernah berputus asa. Semua usaha yang
kalian lakukan selama ini jika lillah maka akan membuahkan pahala. Gak
bakalan hilang sia-sia. Setelah itu, semoga tak ada rasa kesal, amarah ataupun
benci dalam hati kita. Sehingga kita bisa menjadi pribadi yang pemaaf.
Kalau ternyata kalian terjatuh lagi
di tengah jalan, maka segeralah bangkit dengan beristighfar dan do’akan yang
terbaik untuk si “Dia” yang telah membuat kalian patah hati. Mengapa? Karena
itu pertanda kalian telah mengikhlaskannya. Menyadari bahwa ia yang menolak itu
memutuskan untuk pergi itu merupakan kehendak Allah. Bagaimanapu, Allah memang
mempertemukan dan memisahkan siapapun yang Dia kehendaki.
Belajarlah untuk pasrah dan hanya
menggantungkan harapan kepada Allah Ta’ala. dengan begitu, ketika kalian
tersakiti, Allah akan mengobatinya segera, Allah akan segera menggantinya
dengan yang lebih baik.
Sungguh beruntung orang-orang yang
ketika ditimpa kegagalan, kesedihan, kekecewaan, ditinggalkan dan kejadian yang
menyakitkan lainnya, dia menjadikannya sebagai jembatan untuk hijrah menjadi
lebih baik dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Semoga
kita dijadikan hamba-hamba yang kuat hatinya, dijauhkan dari dosa dan termasuk
orang-orang yang banyak bersyukur. Aamiin ya rabbal’alamin.
Bagian
ketiga: Kisah Mereka Yang Pernah Patah Hati
Kalau kalian berpikir hanya kalian yang merasakan
patah hati, kalian salah besar. Dunia ini sudah diciptakan berabad-abad tahun
yang lalu. Pastinya banyak sejarah yang telah terjadi dan pastinya lagi, banyak
yang pernah merasakan cinta. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bukankah
nabi Adam juga merasakan cinta? Manusia pertama yang diciptakan, yang merasakan
berbagai kenikmatan jannah saja pernah jatuh cinta, apalagi anak
turunnya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?.
Dari begitu banyaknya manusia yang hidup di dunia
ini, apakah menurut kalian, cinta mereka semua adalah cinta yang terbalas?
Tentu tidak. Gak semua orang yang merasa dirinya begitu lemah, tak punya
kekuasaan, tak punya keahlian, gagal dalam kisah cintanya. Dan gak semua orang
yang merasa dirinya paling tampan atau cantik, penuh dengan keahlian juga
kekuasaan, berhasil dalam kisah cintanya.
Semua itu sudah Allah tentukan yang tentunya
bertujuan untuk menguji keimanan hambaNya. Diantara mereka pula tidak semuanya
gagal dalam menghadapi patah hati tersebut. Terlebih lagi para sahabat, ulama’
serta orang-orang sholeh lainnya, mereka bisa mengatasi rasa patah hati itu
berdasarkan keimanan mereka. Jadi jangan mudah putus asa. Apapun takdir kalian,
itulah yang terbaik untuk kalian. Mana mungkin Allah memberikan keburukan tanpa
hikmah di baliknya? Ingat! Allah maha kuasa. Dia maha mengatur. Bahkan, masalah
hati pun Dia yang membolak-balikkan.
Semoga
kisah-kisah berikut dapat menginspirasi kalian dalam kehidupan cinta kalian
yang berliku-liku.
Kisah
Cinta Salman Al-Farisi
Salman al-Farisi adalah salah satu sahabat nabi yang
namanya tersohor diantara muslimin karena ide briliannya dalam perang Ahzab. Sebagai
orang Persia, Salman mempunyai pengalaman perang yang tentunya berbeda dengan orang-orang
Arab. Dengan kegigihan dan kecerdasannya, ia mengusulkan sebuah strategi perang
yang pada akhirnya disetujui oleh Rasulullah Saw. yaitu jurang buatan yang dibuat
mengelilingi area perbatasan Madinah atau yang biasa disebut dengan “Khandaq” .
Namun, siapa sangka di balik kisah heroiknya tersebut, ada satu kisah cinta yang
bisa diteladani.
Saat
itu, Salman mencintai seorang perempuan shalihah dari bani Laits. Perempuan
Anshar yang sudah pasti asli Madinah. Ia pun bermaksud untuk menikahinya.
Namun, karena ia seorang imigran Persia, ia tidak mengetahui adat melamar
wanita di kalangan Madinah.
Akhirnya,
Salman mendatangi sahabatnya yang bernama Abu Darda’- yang merupakan penduduk
asli Madinah- untuk menemaninya saat melamar wanita impiannya tersebut.
Abu
Darda’ pun sangat gembira mendengar hal tersebut. Bagaimana tidak? Setelah
mendengar kabar baik itu, Abu Darda’ langsung menyanggupinya. Ia sangat senang
mendengar sahabatnya berencana untuk menikah.
Setelah
mempersiapkan segala yang diperlukan, Salman dan Abu Darda’ pun berangkat
menuju ke kediaman wanita tersebut. Hati Salman sangat senang sekaligus gerogi.
Setibanya disana, mereka disambut hangat oleh tuan rumah.
“Saya
adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara saya Salman dari Persia. Allah telah
memuliakan Salman dengan Islam. Salman juga telah memuliakan Islam dengan jihad
dan amalannya. Ia memiliki hubungan dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam. Bahkan, Rasulullah menganggapnya sebagai ahlu bait (keluarga)-nya,”
kata Abu Darda’ memulai pembicaraan dengan fasihnya berdialek bahasa Arab
setempat.
Lalu ia
melanjutkan maksud kedatangan mereka, “Saya datang mewakili saudara saya, Salman, untuk melamar putri Anda,”.
Mendengarnya
hal tersebut, si wali wanita tersebut merasa sangat terhormat. Tak lain dan tak
bukan, ia sangat senang kedatangan dua orang sahabat Rasulullah Saw yang
terkenal, yang sudah dijamin kesholehannya pula, apalagi salah seorang diantara
keduanya melamar putrinya.
“Sebuah
kehormatan bagi kami menerima sahabat Rasulullah yang mulia. Sebuah kehormatan
pula bagi keluarga kami jika memiliki menantu dari kalangan sahabat,” ujar ayah
si wanita. Namun, beliau tidak langsung menerimanya. Bagaimanapun, sesuai
dengan ajaran Rasulullah, beliau harus bertanya pendapat putrinya tentang
lamaran tersebut.
“Jawaban lamaran ini merupakan hak putri kami
sepenuhnya. Oleh karena itu, saya serahkan kepada putri kami,” lanjut beliau.
Saat yang
dinanti pun tiba. Si wanita tidak mau keluar ke ruang tamu lantaran malu. Ia
hanya mengintip di balik tirai pintu. Ia terlihat membisikkan sesuatu kepada
ibunya. Harap-harap cemas, Salman berharap apa yang ia inginkan diterima oleh
si wanita.
Tak lama
kemudian, si ibu datang dan berkata “mohon maaf kami perlu berterus-terang” ungkapan
itu malah membuat Salman dan Abu Darda’ tegang.
“Maafkan
kami. Putri kami menolak lamaran Salman,” lanjut beliau. Seketika hati Salman
hancur, namun ia berusaha untuk tetap tegar. “Namun, Jika sahabatmu, Abu Darda’ mempunyai tujuan yang sama
untuk meminang putri kami, maka dengan senang hati ia akan menerimanya,” lanjut ibu si wanita.
Salman
membeku sesaat. Tubuhnya lemas, seakan tak kuat untuk berdiri lebih lama lagi.
Wanita idaman yang hendak dipinangnya telah menolak dirinya, justru malah
memilih sahabat yang hanya berniat untuk menemaninya.
Walau ia
patah hati, ia tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan akan takdir Allah Swt.
Dengan ketegaran hatinya, Salman langsung memeluk sahabatnya itu.
“Allahu akbar! Allahu akbar!
Allahu akbar! Aku serahkan semua mahar
yang telah Aku siapkan untukmu dan Aku pula yang akan menjadi saksi di hari pernikahanmu” ucapnya dengan kelapangan
hatinya.
Sungguh
sosok yang teguh, bijak, sekaligus cerdas. Bahkan saat mengalami patah hati
pun, ia sama sekali tidak membenci sahabatnya. Ia malah ikut bahagia. Sungguh
ketegaran hati yang patut untuk diteladani.
Mughits
Dan Cintanya Yang Bertepuk Sebelah Tangan
Sebelumya, mari perkenalan dulu dengan seorang
wanita yang teguh sekali pendiriannya. Sebut saja Barirah. Ia adalah seorang
budak mukatabah. Tuannya memberinya syarat yang cukup berat yaitu dengan
menyetorkan uang sekian-dalam jumlah yang cukup besar- setiap pekannya.
Lalu, mari perkenalan dengan suami yang sangat
mencintainya. Sebut saja namanya Mughits. Dan ia seorang budak pula. Yap,
seperti itulah mereka. Sepasang kekasih yang sama-sama budak.
Pada suatu hari, Barirah meminta bantuan Aisyah
binti Abu Bakr, istri Rasulullah Saw. karena ia merasa keberatan denga syarat
tuannya yang terlalu berat. Maka, Aisyah pun memerdekannya. Lewat tangan Aisyah
ra. Status Barirah berubah. Dari budak menjadi wanita merdeka.
Di kondisi yang seperti ini, dalam syariat
disebutkan bahwa seorang budak wanita yang menjadi istri budak laki-laki
kemudian merdeka, maka baginya khiyar (pilihan untuk tetap dengan
suaminya atau berpisah). Dan ternyata si Barirah lebih memilih untuk berpisah.
Keputusan Barirah begitu bulat. Bahkan, ia mengaku
tidak akan mau lagi menjadi istri Mughits walau ia memberinya banyak harta. “Walau
ia memberiku banyak harta, akau tetap gak akan mau untuk kembali lagi padanya.”
Ujarnya yakin.
Lalu, bagaimana dengan Mughits? Bukankah ia sangat
mencintai istrinya tersebut?. Yah, Mughits tetaplah Mughits. Karena cintanya
begitu dalam, ia tidak mau melepaskannya atau bahkan merelakannya begitu saja.
Ia begitu enggan untuk berpisah. Ia pun terus membuntuti mantan istrinya di
jalanan kota Madinah sambil terus memohon.
Di mana pun Barirah berada, dapat dipastikan disana
sudah pasti ada Mughits yang menanti cintanya dan berharap hatinya akan terbuka
kembali untuknya. Di sepanjang jalanan, keduanya pun jadi perbincangan.
Sekali lagi, Mughits tetaplah Mughits. Ia tidak
mudah menyerah. Ia masih saja melakukan berbagai cara untuk memperjuangkan cintanya.
Berkali-kali, ia mencoba untuk membujuk Barirah, namun gagal. Perjuangan ini
pun terdengar sampai ke telinga Rasulullah Saw.
Rasulullah pun merasa iba terhadapnya. Beliau pun
tidak tinggal diam. Beliau bersabda kepada pamannya, Abbas.
"Wahai 'Abbas, tidakkah engkau heran
betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah, namun Barirah sedikit pun tidak
mencintai Mughits?". Keduanya kemudian merasa kasian kepada Mughits. Toh,
Mughits bukanlah orang yang jahat. Ia berakhlaq mulia, baik hati serta setia.
Namun bagaimana pun juga mereka tidak bisa memaksa Barirah. Cinta tidak pernah
bisa bohong.
Alhasil, Rasulullah pun menjadi perantara
antara Mughits dengan Barirah agar keduanya kembali. Barirah sempat kaget waktu
tau Rasulullah memanggilnya untuk membahas perkara ini.
Rasulullah bertanya,"Andai saja engkau
mau kembali kepada Mughits?"
"Wahai Rasulullah, apakah engkau
memerintahku?" tanya Barirah memastikan sebagai bentuk rasa hormatnya
kepada Rasullullah. Kalaupun itu perintah, sudah pasti Barirah tidak akan
melanggarnya.
"Aku hanya ingin mengasihani
Mughits," jawab Rasulullah. Barirah terdiam.
"Aku sudah tidak membutuhkannya
lagi." Tegas Barirah.
Mendengar hal tersebut, Mughits pun terdiam.
Untuk kesekian kalinya ia sadar bahwa cintanya telah ditolak. Namun, sekarang
lebih jelas lagi. Sangat jelas. Bahwa Barirah sudah tidak ingin lagi hidup
bersamanya. Rasulullah pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena memang pada dasarnya
ini menyangkut perasaan dan itu hanya mereka yang tau. Wallahua’lam.
Begitulah kehidupan,
tak semua yang kita inginkan akan terwujud. Sebesar apa pun usaha Mughits, jika Allah tidak menghendaki, maka hati
Barirah tidak akan berubah.
Terkadang
banyak orang yang menginginkan kita, namun tiada satu pun dari mereka yang kita
inginkan. Sementara orang yang kita inginkan, justru tidak menginginkan kita. Bukan karena ia jahat ataupun banyak celah,
juga bukan karena orang yang tidak menginginkannya tidak baik, tapi itulah
pilihan dan hak.
Yang jelas, selalu ingatlah bahwa Allah yang
maha menghendaki. Apa pun takdir yang Dia berikan, harus disyukuri dan diterima
bagaimana pun itu. Karena Allah lebih tau apa yang terbaik buat kita. Tak
segalanya yang kita anggap baik, itu baik di mata Allah.
Kisah Patah Hati Muhammad bin Abdullah
Kenalkah kalian dengan Muhammad Bin Abdullah?
Pastinya. Mana mungkin kalian tidak mengenalnya. Beliau adalah seorang Nabi
terakhir yang diutus oleh Allah Swt. di tengah kalangan orang Arab sebagai pembawa
peringatan sekaligus kabar gembira. Beliau adalah teladan bagi umatnya.
Terkenal dengan akhlaqnya yang begitu mulia sekaligus tampangnya yang begitu
menawan. Kalau membicarakan tentang Rasulullah, semua terasa indah. Begitu
sempurna. Seakan tak punya kekurangan. Idaman semua wanita.
Namun, siapa sangka ternyata Rasulullah pernah
patah hati? Bahkan 2 kali. Bayangkan, manusia sesempurna itu ditolak oleh cinta
pertamanya.
Semua itu terjadi sekitar 5 tahun sebelum
beliau menikahi Khodijah, istri pertama beliau. Tepatnya ketika beliau berusia
20 tahun, beliau bertemu dengan cinta pertamanya. Siapakah wanita ini?
Fakhitah, itulah namanya. Ia merupakan putri
keempat dari Abu Thalib- paman Rasulullah- yang dikenal dengan sebutan Ummu
Hani’. Saat itu, rasa cinta telah tumbuh diantara mereka berdua. Maka ketika
Rasulullah berusia 20 tahun, beliau berencana meminang sepupunya tersebut.
Sayangnya, Rasulullah kalah dengan Hubayrah,
putra saudara ibu Abu Tholib yang berasal dari Bani Makhzum, yang ternyata juga
telah melamar Fakhitah. Sehingga pinangan Rasulullah pun ditolak.
Ternyata, Abu Thalib memang telah memiliki
rencana lain. Ia akan menikahkan putrinya yang cantik itu dengan Hubayrah yang
terkenal sebagai penyair handal kala itu. Hubayrah merupakan seseorang yang
berilmu dan bijak-layaknya Abu Tholib- sekaligus kaya raya. Ditambah lagi,
kekuasaan Bani Makhzum di Mekkah semakin meningkat seiring dengan merosotnya
kekuasaan Bani Hasyim.
Diketahui pula bahwa Aminah bin Wahab yang
juga ibu dari Rasulullah berasal dari suku yang sama dengan Hubayrah yakni Bani
Makhzum. Demi menjaga hubungan baik itulah, Abu tholib lebih memilih untuk
menikahkan Ummu Hani’ denga Hubayrah daripada dengan Rasulullah.
“Wahai pamanku, mengapa kau tidak menikahkan Ummu
Hani’ denganku?” tanya Muhammad lembut.
Abu Tholib hanya tersenyum dan menjawab, “Mereka
telah menyerahkan putri mereka untuk kita nikahi”. Yang dimaksud dengan Abu
Tholib adalah ibu Rasulullah sendiri, Aminah yang menikah dengan Abdullah bin
Abdul Mutholib.
“Ketahuilah, seorang pria yang baik haruslah
membalas kebaikan yang sama dengan apa yang telah mereka berikan kepada kita”
tambah Abu Tholib.
Tak ada pilihan lain bagi Rasulullah selain
menerima dengan lapang dada. Apalagi beliau paham betul tradisi Arab saat itu.
Beliau pun sadar, memang Fakhitah bukanlah takdirnya. Bahkan beliau berdoa
kebahagiaan untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian, Rasulullah bertemu dengan
Khodijah yang merupakan seorang janda kaya raya sekaligus orang yang
mempekerjakan beliau sebagai seorang pedagang. Karena sudah saling mengenal,
tumbuhlah rasa cinta di hati Rasulullah. Begitu pula dengan Khodijah yang
akhirnya melamar Rasulullah terlebih dahulu. Akhirnya di usia 25 tahun,
Rasulullah menikahi Khodijah yang berusia 40 tahun.
Kisah cinta diantara keduanya menjadi kisah cinta paling romantis
sepanjang sejarah. Selain berperan sebagai istri yang shalihah, Khadijah juga
selalu menemani Rasulullah di kala suka dan duka. Ia selalu ada untuk mendukung
Rasulullah kapan pun itu.
Namun, apalah daya, diusia 65 tahun, Khadijah meninggalkan Rasulullah
untuk selama-lamanya. Rasulullah merasa sangat kehilangan. Kepedihan yang
sangat besar telah menancap di hati Rasulullah. Rasa cinta yang sangat berarti
itu, membuat beliau tidak ingin lagi menikah dengan orang lain.
Kalau saja Allah Swt tidak memerintahkan Rasulullah untuk menikah,
niscaya beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Bagi beliau, pernikahan
setelah itu hanyalah tuntutan risalah beliau. Sejatinya, tidak pernah bisa move
on dari istri tercintanya tersebut walau telah 14 tahun sejak
kepeninggalanya.
Bagaimana dengan Ummu Hani’? ia harus berpisah dengan suaminya yang
enggan untuk masuk islam sedangkan Ummu Hani’ sendiri telah menjadi pengikut Rasulullah.
Bahkan, ia harus mengurus empat anaknya sendirian tatkala ia menjadi janda.
Sepeninggal Khadijah, Rasulullah sempat melamar kembali Ummu Hani’.
Namun, Rasulullah kembali ditolak. Kalau dulu, ayahnya yang menolak, kini ia
sendiri yang menolak.
“Wahai Rasulullah, tidak ada wanita yang tak ingin menjadi istrimu,
begitu pula denganku. Sayangnya, aku memiliki banyak anak. Jika aku menikah
denganmu, aku bingung harus memilih berat ke mana. Kalau aku berat kepada
suami, aku takut menelantarkan anak-anakku yang masih kecil, dan jika aku berat
kepada anak, aku takut zalim kepada hak suamiku. Daripada aku menjadi orang
yang zalim, maaf saya tidak bisa menerima lamaran anda." Jelas Ummu Hani’.
Mau bagaimana lagi, yang bisa Rasulullah lakukan sekarang adalah
mengikhlaskannya lagi. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa patah hati
bukanlah akhir dari segalanya. Allah pasti telah merencanakan yang lebih baik.
Begitulah skenario Allah, selalu mengejutkan. Sulit untuk ditebak.
Sudahlah! Jangan terlalu lama bersedih. Ambil aja hikmahnya. Ujian itu
selalu ada dan di baliknya selalu ada hikmah yang menanti. Mulailah belajar
menerima dengan ikhlas. Lapangkanlah dadamu, tak perlu resah apalagi sampai
gelisah. Cukup intropeksi diri saja. Jadikan rasa patah hati tersebut sebagai
langkah untuk membenahi diri.
.jpg)
.jpg)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar